Sebelum kalian berpikir bahwa aku sedang menggiring kalian menjadi mahkluk yang dingin dan tidak berperasaan (seperti aku), aku yakinkan kalian: tidak! Jadi, kenapa aku berhenti menolong orang lain? “Menolong” yang aku maksud di sini bukanlah sopan santun kecil yang sehari-hari kalian lakukan seperti membantu menyeberangkan orang tua, memberikan tempat duduk di kendaraan umum pada yang lebih membutuhkan atau sekedar membukakan pintu untuk seorang ‘lady’.

Entah dari siapa aku mempelajarinya, tapi aku mengingatnya sejak aku masih kanak-kanak.

“Jangan menolong orang yang tidak memintamu untuk menolongnya.” Well—o’course! Aku bukan pahlawan kesiangan, jadi dari kecil aku sudah melatih pikiranku untuk stay out of people’s problems. I got enough of my owns.

A post shared by Evan Stinger (@evanstinger) on

Tapi faktanya, seiring aku bertambah usia dan semakin mengenal dunia, banyak orang yang berkeluh kesah tentang hal ini. Ada yang mengaku dimanfaatkan, ada yang bilang ‘bagai menolong anjing terjepit, malah kita yang digigit!’; bahkan ada yang sampai membuat pemberitahuan pemutusan hubungan keluarga di surat kabar!

Intinya mereka justru mendapat ganjaran yang negatif akibat ‘kebaikan hatinya’ menolong orang lain.

Apakah ada yang salah dengan menolong orang lain?

Aku rasa tidak ada yang salah dengan niat baiknya, hanya saja kita juga perlu berpikir matang. Karena niat baik saja tanpa dibarengi kebijaksanaan sama dengan konyol.

Jangan Menolong Orang Yang Tidak Pantas Untuk Ditolong

Siapapun kalian, kalian perlu tahu kalau dunia ini kejam. Terkadang beberapa orang terlalu naif dan merasa terpanggil menjadi pahlawan. Sampai akhirnya mereka sadar—atau mungkin tidak kunjung sadar—bahwa mereka telah dimanfaatkan oleh orang lain.

Begitu banyak aku mendengar cerita tentang teman yang suka meminjam uang kepada siapa saja tapi tidak pernah mengembalikannya, selalu saja ada alasannya, tidak ada uanglah, kena musibahlah, kucingnya baru meninggal dan banyak lagi. Anehnya, si pengutang ini bisa memposting foto-foto liburan, makan di restoran mewah dan beli gadget baru di Instagramnya! Sementara yang mengutangi mereka mungkin sedang membutuhkan uang itu kembali!

Miris!

Orang-orang seperti ini banyak! Bisa jadi ada di antara teman-temanmu atau keluargamu dan,… dan bisa saja itu kamu! Hey, bertobatlah! Iya, kamu yang suka memanfaatkan kebaikan (baca:kelemahan) hati orang lain dengan memancing rasa ibanya.

A post shared by Evan Stinger (@evanstinger) on

Jangan Menolong Orang Yang Tidak Menghargai Bantuanmu

Seperti yang tadi aku sampaikan di awal. Terkadang kita menolong bukan karena ingin dianggap baik, tapi memang karena kita peduli.

Aku pernah mendengar curahan hati seorang teman tentang ayahnya yang depresi dan sakit keras karena dikecewakan oleh adik yang paling disayanginya (paman temanku). Ayah temanku ini membawa adiknya dari kampung untuk disekolahkan di kota Medan setelah ayah mereka di kampung meninggal dunia. Ayah temanku ini anak pertama, jadi dia merasa bertanggung jawab pada adiknya yang bungsu itu.

Singkat cerita ayah temanku itu menyekolahkan adiknya itu sampai akhirnya lulus masuk TNI. Ayah temanku itu menanggung semua biaya adiknya itu, bahkan sampai dinikahkan dengan biaya sepenuhnya dari ayah temanku itu. Sampai akhirnya adiknya itu pindah karena ditempatkan di kota lain.

Sekitar setahun yang lalu, ayah temanku ini sakit keras dan berminggu-minggu harus dirawat di rumah sakit. Ternyata beliau memiliki hutang yang menumpuk di berbagai bank, dan kenyataan yang lebih pahit lagi, sebagian besar hutang itu berasal dari permohonan adik ayah temanku yang menggunakan nama ayah temanku ini. Katanya untuk proyek sampingan yang dia dapat di kota tempat dinasnya yang baru. Dia bilang hanya butuh modal untuk mendahulukan sebelum invoice-nya cair. Faktanya hingga kini adiknya ayah temanku itu tidak pernah menunjukkan niat untuk membayar pinjaman itu, dan ayah temanku itulah yang harus menanggung semuanya.

Jujurlah. Aku yakin, hanya membaca kisah di atas saja, pasti membuatmu kesal. Bayangkan bila hal yang sama terjadi pada ayahmu!

Tidak semua orang layak untuk ditolong. Terutama mereka yang tidak menghargai bantuanmu.

 

Jangan Menolong Orang Melakukan Sesuatu Yang Kamu Nggak Yakin 100% Kuasai

Banyak orang yang menolong temannya karena terjebak ego, terjebak rasa hutang budi, dan ada juga yang karena ingin cari perhatian. Apa pun itu alasannya, kenali dirimu, kenali batasanmu. Bukan berarti dengan niat baik untuk menolong kamu langsung mendapatkan kekuatan superhero.

Sebelum kamu memutuskan untuk menolong siapapun, terlebih dahulu periksa kapasitasmu. Apakah kamu memang mampu membantu atau malah hanya akan memperburuk keadaan?

Karena seperti yang sering kita baca di kartu petunjuk keselamatan terbang di kabin pesawat, pastikan keselamatan diri anda sendiri dulu, barulah anda membantu menyelamatkan orang lain.