Gimana sih rasanya jadi orang pintar?

Sejak kecil, pertanyaan ini sering sekali menghampiriku.

Biasanya aku hanya tertawa kecil, atau sekalian berseloroh, “ya… repot jadi orang pintar, banyak yang datang minta susuk untuk dimudahkan jodohnya, kayak kamu!”

Pintar, menurut KBBI bisa berarti pandai, banyak akal atau mahir (mengerjakan sesuatu). Sementara pintar menurut banyak orang saat ini mungkin berwujud nilai yang bagus di rapor, peringkat kelas, prestasi ekstrakurikuler, kemampuan berbahasa asing, dan yang lebih kekinian menguasai sedikit banyak IT.

Aku sendiri memang selalu meraih peringkat pertama sepanjang masa sekolahku. Ya, memang selalu, bahkan beberapa kali isi raporku itu nilainya 9 semua untuk seluruh mata pelajaran. Entah mengapa pula aku selalu didapuk menjadi ketua kelas sepanjang masa sekolahku. Ketua panitia, ketua organisasi siswa, ketua ini-itu.

Intinya, kemanapun aku pergi, orang-orang cenderung menjadikanku anchor-man mereka. Mereka punya sebuah gagasan, mereka cari aku untuk menyuarakannya, mereka punya pertanyaan, mereka cari aku untuk menjawabnya, mereka punya iPhone yang bootloop mereka cari aku untuk memperbaikinya. Kedengarannya keren dan menyenangkan yah? Alpha male.

Itu dari sudut pandang kalian.

Bagaimana dengan aku? Atau sekian banyak anak-anak di luar sana yang accidentally gifted?

Aku (kami) bukan tidak mensyukuri karunia Tuhan untuk kami, saat aku masih 9 tahun skor WISC-ku 134 dengan tingkat kematangan emosional hampir dua kali lipat usiaku.

Tapi aku juga ingin hidup seperti anak-anak normal lainnya. Tanpa tatapan-tatapan yang seolah menganggapku mahkluk ekstraterestial yang nyasar ke bumi.

Beberapa anak-anak bahkan tidak percaya saat aku bilang aku tidak pernah belajar di rumah. Sehari-hari aku hanya bermain game berbasis DOS dan mengutak-atik komputer antik IBM Pentium 200 di rumahku. Kalau sedang bosan aku akan berkeliaran memanjat pohon, menangkap belalang atau bermain gitar.

Aku menghargai mereka yang menaruh kekaguman dan kepercayaannya padaku. Tapi aku juga ingin mereka mengerti bahwa aku manusia biasa yang tidak bisa selamanya dituntut untuk menjadi sempurna.

Pernah suatu kali aku mendapat nilai buruk di ulangan semester untuk bidang studi Fisika. Satu kelas gusar. Guru BP memanggilku ke ruangan konseling, mereka berpikir ada yang salah denganku.

Fuck! I don’t even own the right to be wrong!

Melakukan kesalahan adalah hak setiap orang. Orang-orang yang dianggap ‘pintar’ juga bisa salah dan mereka berhak untuk melakukan kesalahan.

Semakin lama aku merasa semakin terbebani dengan ekspektasi orang-orang. Dulu orangtuaku bahkan tidak pernah melihat rincian nilai-nilai raporku, mereka sudah terbiasa dengan nilai-nilai bagus dan peringkat terbaik itu.

See? Orang-orang menerapkan standar yang berbeda untukku. Bila nilai dan prestasi-ku bagus, maka itu wajar. But, how if I dip in, even if it’s just a bit? People will notice and they will lose their minds!

Jadi orang pintar itu nggak beda jauh dengan agen rahasia CIA. Bila berhasil nggak pernah dapat apresiasi dari masyarakat, namun bila gagal akan langsung jadi musuh negara.

This is why I took my chance to put this madness to an end.

Ya! Aku sudah lelah jadi orang pintar.

Sejak di bangku kuliah, aku tidak lagi mengejar nilai terbaik. Bahkan aku sengaja mengatur nilai-nilaiku untuk tidak terlalu menonjol. Meski aku nggak bisa menyembunyikan pengaruhku di perkuliahan maupun kegiatan kemahasiswaan, setidaknya dengan mengurangi dominasiku, aku mencoba untuk ‘fit-in’.

Aku menulis semua ini setelah membaca postingan Bang Bernard Batubara (@benzbara_) tentang masa kecilnya yang berjuang untuk ‘fit-in’ dengan kelompok anak-anak yang populer. Bang Bara ingin sekali masuk menjadi tim basket sekolahnya, karena pada umumnya tim basket ataupun sepakbola (futsal) adalah anak-anak yang populer di sekolah.

Namun setelah berusaha sejak SD hingga SMA, Bang Bara selalu menjadi pemain cadangan. Hingga suatu saat, Bang Bara menyadari bahwa ‘jalannya’ bukan di basket dan dia pun berhenti untuk memaksakan dirinya ‘fit-in’ di kelompok populer tersebut. Dia bergabung di klub English Debate. Dia mulai menemukan dirinya mampu menuangkan keajaiban yang dimilikinya dalam bentuk kata-kata yang mampu menggerakkan perasaan pembacanya.

Kontras dengan aku yang memang berada di ‘kelompok populer’ itu. Menjadi Center di tim basket sekolah dan fakultas merupakan posisi yang memikul beban tim. Menjadi ketua kelas, pengurus OSIS dan beragam tetek-bengek lainnya mengharuskanku untuk menjadi ‘siswa teladan’. Semua ekspektasi yang ditimpakan kepadaku ini membuatku terikat dan tidak bebas untuk mengembangkan diriku sesuai dengan passion-ku.

Mari hentikan budaya menumpuk beban mental pada anak-anak yang accidentally gifted.

Orang pintar juga bisa salah. Orang pintar juga punya keterbatasan. Orang pintar juga tidak mau di anggap Google berjalan. Orang pintar… juga bisa masuk angin!