Pagi ini aku meringis menahan geli saat kognisiku memanggil kembali memori jenaka tentang kedewasaan seseorang. Sebuah memori terlarang yang telah lama kuarsipkan di alam bawah sadarku. Baca juga: Aku Nggak Sengaja Jadi Orang Pintar

Kamu nggak dewasa, deh!

Beberapa tahun yang lalu—plus bertahun-tahun yang lalu lagi, karena seingatku waktu itu aku masih berbalut putih abu-abu—aku sedang menunggu angkot (angkutan kota) di pinggir jalan Pemuda, persisnya di depan Bank Artha Graha, Medan. Jangan tanya, sedang apa aku di sana, belasan kilometer dari rumah dan sekolahku. Tanyakan saja pada remaja lain yang sedang di puncak gejolak hormonnya.

Dengan gaya rambut acak-acakan yang sengaja diacak lagi, kemeja lusuh, celana panjang abu-abu dekil dan sepatu yang baunya seperti ikan asin, aku berdiri di sana bak manekin fashion pria di etalase H&M. Menikmati deburan angin sore yang khas di kaki gedung-gedung tinggi, aku berdiri dengan gagahnya.

Sekonyong-konyong aku mendengar dua anak SD — cewek — berjalan ke arahku sambil cekikikan. Keduanya masih mengenakan seragam putih-merah dan menggendong tas sekolah mereka. Jujur, waktu itu nggak ada firasat apa-apa, karena memang apa yang terjadi selanjutnya benar-benar mengguncang nalarku.

Kedua anak SD putri ini berjalan lebih lambat saat jarak mereka denganku sudah kurang dari 3 meter. Salah satu di antara mereka lebih tinggi dari yang satu, namun mereka tetaplah pendek karena memang masih SD. Paling baru kelas 5 atau 6, pikirku. Mereka semakin mendekat and frankly, I didn’t see it coming.

Anak yang lebih tinggi benar-benar menghampiriku, dia tersenyum.

“Kak,…” celetuknya sambil tetap nyengir, tangannya menyodorkan sesuatu yang sejak tadi tidak kuperhatikan. Sebuah ponsel Blackberry tipe Javelin dengan softcase putih.

“Boleh minta PIN BBM-nya?”

What the heck!!

Serius, aku hampir terjengkang saat mendengarnya. It sounds so clear and well prepared. Suddenly my head started spinning around and my feet struggling to stand still.

This brat!

“Ciee..ciee..!!” temannya yang sejak tadi menjadi pemirsa tunggal kembali cekikikan. Another attack for me! What kind of crack did I inhaled? It’s surreal!

“Iiihh.. Indy (mungkin bukan nama sebenarnya) nggak dewasa deh!She frowned her friend while the accused one taunting back at her. Lalu dia kembali menoleh ke arah wajahku yang mungkin sudah membengkak sebesar labu Jack-o-Lantern, dia kembali tersenyum menodongku.

To be honest. Aku bukan berasal dari keluarga yang berada, saat itu aku hanya memiliki Nokia 6600 yang aku beli second hand (baca: bekas!) di Plaza Millenium. No way aku bisa punya BlackBerry yang waktu itu harganya bisa buat bayar uang sekolahku dari kelas 1 SMA sampai kelas 3 SMA. Dan… Kalaupun –somehow– aku punya that freakin overpriced BlackBerry, there’s no effing way I’m gonna let this brat had my BBM PIN! That’s absolutely paedobear!

Tapi pelajaran terpenting yang aku dapatkan pada hari itu adalah: kedewasaan!

Saat itu aku juga sedang menuju akhir masa remajaku, menuju usia matang yang disebuat Early Adult atau dewasa awal. Namun istilah-istilah ‘kamu nggak dewasa deh’ atau ‘dewasa dikit, dong!’ merupakan makanan sehari-hari dalam pergaulanku. Bukan cuma di antara kami yang sudah mulai memasuki akhir masa sekolah, mereka-mereka yang masih jauh lebih muda seperti anak-anak SD tadi juga sering mengucapkannya. Ini menggelikan.

Apa sebenarnya kedewasaan itu?

Beberapa bulan kemudian aku menanggalkan seragam putih abu-abu dan resmi menjadi mahasiswa Psikologi di Universitas Sumatera Utara. Terlepas dari fakta kalau aku sangat membenci dunia akademik, sesungguhnya perilaku manusia merupakan sesuatu yang sangat menarik perhatianku. Jadi biarkanlah mahasiswa abadi yang satu ini menjelaskan sedikit tentang arti kedewasaan itu.

kedewasaan itu menghargai

1. Kedewasaan itu: Menghargai Pendapat Orang Lain Vs. Mau Benar/Menang Sendiri

Di dunia ini kita tidak hidup sendirian. Ada milyaran manusia lainnya yang berbagi oksigen dengan kita. Sang pencipta menganugerahi manusia dengan rasio. Seluruh manusia. Jadi setiap orang punya pemikirannya masing-masing.

Kedewasaan tercermin pada saat manusia itu saling mengeluarkan isi pikirannya. Manusia, pada dasarnya, selalu memiliki naluri kompetitif, mereka ingin lebih baik dibanding mahkluk lainnya, bahkan sesama spesiesnya. Tidak heran bila kita lebih ingin pendapat kita yang didengar, karena kita merasa pendapat kita yang benar dan pendapat orang lain tidak penting. Padahal bila kita mendengar pendapat orang lain, meskipun pendapat itu kurang baik, kita akan memperkaya perspektif kita akan sesuatu. Alih-alih berdebat, pembicaraan tersebut akan lebih bermanfaat karena diproses oleh lebih dari satu prosesor dengan sudut pandang yang berbeda. Inilah yang disebut: brainstorming.

 

 

2. Kedewasaan itu: Mensyukuri Vs. Mengeluh

Aku ingat, salah seorang teman seangkatanku di Fakultas Psikologi USU pernah mengucapkan serangkaian kalimat yang sangat berkesan untukku:

“Hidup ini sepaket. Kita nggak bisa cuma mau yang enaknya aja, yang jeleknya juga harus kita terima.”

Kata-kata ini sering dia ucapkan saat kami mengalami hal-hal yang mengecewakan. Kata-kata ini juga mengingatkanku pada Forest Gump.

“Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”

Kedewasaan membuat individu selalu bisa menemukan alasan untuk mensyukuri apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Bukan hanya menggerutu dan mengeluh di sepanjang jalan yang berbatu.

kedewasaan itu bersyukur

3. Kedewasaan itu: Memiliki Rasa Iba Vs. Tidak Mau Memaafkan

Atas dasar apa kita mau memaafkan orang lain?

Well, kalau orang tersebut memang benar-benar menyesali perbuatannya dan memohon maaf kepada kita atas kesalahannya, tidak sulit untuk memaafkannya. Tapi bagaimana kalau orang tersebut malah nggak merasa bersalah atau justru memang berniat menyakiti? Di sinilah perbedaan tingkat kedewasaan itu terlihat.

Menyimpan dendam sebenarnya lebih banyak merugikan dirimu dari pada orang yang kamu benci. Confucius pernah berkata:

“Seseorang yang hendak balas dendam sebaiknya menggali dua lubang kuburan sebelum pergi membalaskan dendamnya.”

 

Baca juga: 10 Langkah Move On Untuk Kamu Yang Ngakunya Baik-baik Saja

4. Kedewasaan itu: Nyaman Dengan Diri Sendiri Vs. Sibuk Menyenangkan Orang Lain

Kurt Cobain pernah berkata:

“Lebih baik aku dibenci karena menjadi diriku sendiri, daripada aku harus berpura-pura hanya untuk menyenangkan orang lain.”

Insecure adalah penyakit dari kebanyakan anak-anak muda saat ini. Konformitas menjadi sesuatu yang dijunjung tinggi. Semua orang berlomba-lomba memiliki benda-benda tertentu yang dianggap ‘standar’ dalam kehidupan pergaulan mereka. Ingin terlihat keren dengan memakai brand-brand ternama, ikut-ikutan trend terbaru demi keinginan untuk diterima atau diakui dalam pergaulan. Bahkan banyak yang ‘memodifikasi’ wajahnya, warna kulitnya dan… kelaminnya hanya demi –ah sudahlah!

Kehidupan adalah sebuah anugerah yang kita terima dari sang pencipta, setiap orang menerima bagiannya masing-masing yang unik dan spesial. Kita tidak perlu menjadi orang lain, kita tidak perlu hidup untuk menyenangkan semua orang. Kamu adalah kamu, dan bahagia itu kamu sendiri yang buat, bukan orang lain. Bila selama ini kamu telah sesat, belum terlambat!

Kembalilah, dan temukan dirimu.

kedewasaan itu memahami

5. Kedewasaan itu: Hidup di Masa Kini Vs. Hidup di Masa Lalu atau di Masa Depan

Judul di atas tidak salah. Banyak time-traveller di mana-mana saat ini. Mereka bukan kerabatnya John Titor, tapi mereka lebih sering hidup menjelajah ke masa lalu atau ke masa depan.

Orang-orang yang sering menjelajah ke masa lampau adalah mereka yang sulit atau gagal move-on dari sebuah peristiwa atau fase hidup tertentu yang telah mereka lalui. Mereka hidup dalam penyesalan, kesedihan dan kegalauan yang berlarut-larut. Kehidupan seperti ini sangat rentan dan berpotensi merusak lebih banyak aspek lagi bila tidak segera ditangani dengan serius.

Sementara mereka yang sering menjelajah ke masa depan atalah mereka yang selalu cemas dan kuatir akan masa depannya. Mereka sangat takut apabila rencana mereka tidak lancar, mereka cemas apabila gajinya tidak cukup sampai akhir bulan, mereka kuatir bila nanti malam minggu tidak punya uang untuk jalan dengan pacarnya maka pacarnya akan diambil orang.

Apapun jenisnya, time-travelling sangatlah melelahkan dan merugikan penumpangnya. Penyesalan tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi di masa lalu. Begitu juga dengan kekuatiran yang nggak akan menambah semeter pun jalan hidupmu.

Bebaskanlah pikiranmu, maafkan masa lalumu dan percayalah bahwa hari esok punya kesulitannya masing-masing. Hari ini kamu kerjakan bagianmu untuk hari ini, hari ini kamu hadapi kesulitan untuk hari ini, dan hari ini kamu nikmati kebahagiaanmu untuk hari ini.

Jangan takut dan percayalah, hari esok masih akan datang dan esok pasti lebih baik.

Kesimpulan.

Jadi apakah kedewasaan itu?

Kedewasaan itu—menurutku—adalah saat kita menyadari dan memahami siapa diri kita ini sebenarnya, bagaimana hubungan kita dengan diri kita sendiri, hubungan kita dengan Sang Pencipta dan hubungan kita dengan mahkluk hidup lainnya.

Memahami bahwa kita ini tidak hidup sendirian. Memahami di mana batas kemampuan kita. Memahami arti kesulitan dan kebahagiaan yang kita alami sebagai bagian dari proses kehidupan. Memahami dan menerima segala sesuatu dengan hati yang ikhlas.

Memahami bahwa hidup ini begitu indah.