Setiap orang memerlukan senjatanya sendiri-sendiri. Petani memerlukan cangkul, nelayan membutuhkan kail dan jala, fotografer wannabe membutuhkan Canon EOS 5D, Kim Kardashian membutuhkan kontroversi, sementara Hansip Sukra membutuhkan pentungnya. Aku membutuhkan sebuah laptop yang bisa bertempur seharian bersamaku tanpa harus paranoid ngecek level baterai dan berdarah-darah berebut colokan listrik. Aku akhirnya memilih Chromebook menjadi partner in crime-ku, dan inilah perjalananku menemukannya:

How I Met My Chromebook

Pertengahan tahun lalu aku memutuskan untuk serius menulis dan ngeblog. Namun bersamaan dengan itu, beberapa tuntutan kehidupan memaksaku untuk sering berada di luar rumah. Aku memiliki sebuah laptop tua, Acer 4750G yang tercolok ke layar 32 inch di kamarku. Baterainya soak. Menjadikannya sebuah fixed PC/workstation adalah tindakan yang paling masuk akal. Aku membutuhkan sebuah laptop yang bisa bertahan seharian penuh, tapi tetap ringkas dan tidak menyulitkan untuk di bawa ke mana-mana tanpa tas.

Sebelum aku memutuskan untuk membeli laptop, aku sudah dan masih menggunakan iPad Mini Retina. Untuk kebutuhan browsing, riset, planning bahkan menulis draft/outline, iPad Mini masih cukup mumpuni. But I know right, I need a solid laptop.

Yes. It’s true, I could get a physical keyboard for my iPad, but still it’s not a laptop and it’s not gonna feels like one! Feel-nya beda, bro. I’ve tried it.

Thus begins the search for the candidats. Laptop dengan kekuatan baterai di atas 8 jam. Inilah para kandidatnya:

 

Chromebook EvanStinger

Hampir semua laptop di atas memiliki harga yang fantastis.

Do I need to break my savings for this? No! My ego will kill me!

So, I run another checks. Aku memang butuh laptop dengan kapasitas baterai yang besar. Tapi aku tidak begitu memerlukan laptop dengan specs yang hingar bingar. Yes, I know that so called ultrabooks are gorgeous! But I won’t let their beauty rob me.

Laptop dengan price range 3-4 juta rupiah saja seharusnya sudah cukup. Medan perangku adalah internet research, browsing, forums, managing social media accounts, blogwalking and of course, write a tons of contents.

Banyak netbook mainstream yang masuk ke dalam price range ini. Tapi pada umumnya prosesor yang disematkan pada netbook-netbook ini adalah prosesor turunan Intel Atom yang kurang memadai untuk multi-tasking (browsing 3-5 tab bersamaan dengan aplikasi pengolah kata). Dari segi baterai juga demikian. Misalnya ASUS X200MA, Lenovo S20-30 atau Acer ES1 yang saat ini memimpin pasar penjualan laptop untuk price range di atas. (Aku tahu data ini dari temanku yang memiliki sebuah toko komputer di Merak Jingga, barometer computer stuffs di Medan).

Kembali ke hasil risetku yang paling pertama tadi. Di situ mataku tertumbuk pada Chromebook. Aku sudah pernah membaca tentang laptop dengan OS besutan Google ini, dan FYI, aku tidak fanatik dengan Windows. Aku sudah menggunakan hampir seluruh versi Windows, OS X, beragam flavor Linux dan Android, aku tidak alergi dengan hal baru.

But, still I questioned myself back then. Mengingat di Indonesia belum banyak penggunanya—mungkin karena ketersedian internet yang belum merata, sebagian besar kekuatan Chromebook baru aktif setelah terkoneksi ke internet—bisa jadi aku akan menjadi alien yang di banished ke kota Medan.

Tapi, aku bukanlah diriku bila tidak tertantang mencoba sesuatu yang melawan arus. Jadi, aku memutuskan untuk membeli sebuah Chromebook.

Besoknya aku menghubungi temanku yang memiliki toko komputer itu. Guess what? Nggak ada toko yang menjual Chromebook. Why??! Karena menurut mereka, sebuah laptop yang cuma memiliki internal storage 16 GB, hanya menggunakan Chrome OS, nggak bisa di pasangi Windows apalagi Microsoft Office, bukanlah sebuah komoditi yang menguntungkan. Siapa yang mau beli?

Mereka nggak salah. Jualan consumer electronics itu bisnis serius. Mereka (para pedagang) nggak bakal ambil risiko untuk menjual barang yang sepi peminatnya. Ini bukti konkret bahwa bangsa kita belum siap untuk Chromebook, belum siap—setidaknya saat ini—untuk era digital dan cloud-based technology.

Solusi selanjutnya adalah online shop. Aku pun menyambangi Bukalapak, Tokopedia dan OLX. Aku tidak punya catatan buruk dalam belanja online, tapi kali ini—untuk Chromebook—kalau bisa, aku ingin melihat langsung barangnya sebelum membeli.

Entah karena berjodoh, di OLX aku menemukan satu lapak—memang hanya satu-satunya—yang menjual Acer Chromebook 11 dalam kondisi bekas. Menurut foto yang di-upload penjualnya, fisiknya masih sangat mulus, karena sepengakuan penjualnya, Chromebook itu jarang dipakai. Harga jualnya hanya berbeda sekitar 1jutaan dari harga barunya. Tapi seperti yang tadi aku ceritakan, tidak ada yang menjual Chromebook di Medan, dan aku pun hanya ingin membeli setelah melihat barangnya secara langsung terlebih dahulu.

Setelah 3 hari menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk menelepon nomor yang tercantum di iklan OLX itu. Dari suara dan sambutannya, si penjual terkesan ketus. Tapi karena hati sudah bulat, aku pun tetap mendatangi rumahnya yang kebetulan cukup jauh.

Setibanya di rumah si penjual, dia masih ketus juga. Tanpa banyak bicara, dia keluarkan Acer Chromebook 11 yang menjadi tujuan utama pertemuan itu. Laptop ini dari fisiknya memang masih sangat mulus, saat aku membuka layarnya untuk mengamati keyboardnya, Chromebook langsung menyala. Hanya membutuhkan 3-4 detik untuk menyala! Aku langsung terkesan.

Chromebook Evanstinger

 

Aku mencoba menjajal sistem operasi Chrome itu untuk pertama kali, dan sekitar 5 menit kemudian aku telah mengenal apa itu Chromebook. Sembari mengetes fungsi seluruh tombol keyboard pada Google Doc, aku iseng mengajak ngobrol si penjual yang sejak tadi diam dan memasang poker face.

 

 

Dari pembicaraan singkat itu aku jadi tahu ternyata dia membeli Chromebook itu di Jakarta dari temannya yang membeli dari orang yang membeli juga dari pemilik pertama. Artinya, aku akan menjadi pemegang ke-4. Mereka semua menjual Chromebook itu karena kurang suka dengan Chrome OS-nya, nggak bisa di install Windows, internal storage cuma 16 GB, butuh koneksi internet, dan segala macam komplain yang ada intinya they expect this Chromebook to function like another ‘common laptops’.

Bapak itu juga bercerita kalau udah banyak orang yang menelpon dan mendatangi rumahnya untuk melihat Chromebook itu tapi akhirnya batal membeli karena alasan yang sama: laptop kok nggak bisa Windows?

Chromebook EvanStinger

Ekspresi si pembeli langsung berubah saat aku mencoba nego harga. Nggak lama kemudian kami mencapai sepakat, tapi aku tidak membawa uang cash. Aku menawarkan untuk transfer lewat mobile banking, tapi bapak ini (masih usia 30an) nggak ngerti mobile banking dan nggak bisa ngecek saldonya selain dari ATM dan bank. Duh!

Entah karena saking senangnya atau memang butuh duit, si penjual menawarkan untuk mengikuti saya ke ATM (yang cukup jauh dari rumahnya) sambil membawa laptopnya, dia naik motor mengiringi mobilku supaya aku nggak perlu repot bolak-balik ke rumahnya. Akhirnya di boot ATM sebuah swalayan terjadilah transaksi itu. Bapak itu langsung sumringah dan mengucapkan terima kasih. Berbeda 180 derajat dibanding saat pertama jumpa di rumahnya. Kami pun berpisah jalan setelah dia menerima uangnya dan aku menerima Chromebook putih itu beserta charger-nya.

Sampai saat ini aku cukup puas menggunakan Chromebook ini. Setiap hari aku membawanya di mobilku, aku tenteng kemana-mana seperti membawa majalah, tipis dan ringan. One of my best buy in 2016 with an interesting behind-the-scene story.

Next time aku akan menuliskan pengalamanku menggunakan Chromebook, semua kesulitan, kemudahan, dan proses adaptasi yang aku lalui bersamanya.