Do you ever feel so fed up with something?

I’m gonna tell you some stories, but please keep in mind that I tried to write this as humble as possible. I—faithfully—mean no offense to anybody, I just want everyone to understand and learn something from this story. Otherwise, you know where the exit, sir!

We live in 21st century.

Technologies, remote, drone, internet, cloud computing, smartphone, smart-TV, smart house, Facebook, Memes, Youtube, Kim Kardashian, Justin Bieber, Donald Trump!

Kalau kalian familiar dengan hal-hal di atas, maka selamat, kalian hidup di abad 21, and I bet all my Starbucks tumblers, most of you are Millennials!

Nah, tulisan ini sebenarnya lebih aku tujukan pada kalian sobatku, my fellow millennials. Karena kalian dan aku adalah anak-anak teknologi. Kita lahir di zaman TV sudah berwarna dan pakai remote. Kita tidak berkirim surat dengan gebetan kita, kita berkirim foto mesra (or mesum, whatever) lewat berbagai aplikasi medsos dari smartphone kita. Kita terkoneksi dengan dunia setiap saat.

Coba ambil waktu beberapa detik untuk merenungkan betapa berbedanya kehidupanmu dengan orangtuamu.

Sudah?

Let’s delve deeper into my story.

Setahun yang lalu aku memutuskan untuk melanjutkan kuliahku yang terbengkalai. Aku pun mendaftar di sebuah universitas swasta yang cukup ternama di Medan. Sebagai konsekuensinya aku harus bergabung dengan mahasiswa yang rata-rata 5-7 tahun lebih muda dariku.

Yikes! I felt like an old man at first. Ada perasaan geli karena harus berkompetisi sehat dengan mereka yang lebih muda. But, here comes the plot twist.

“Aduh, bang, sorry… File presentasinya ada di flashdisk ku, dan flashdisk-nya ketinggalan di kamar kos.”

Aku menarik nafas panjang dan mengelus dada Nikita Mirzani. FYI, I am a public speaker and I really good at it. Aku pun membabat habis materi presentasi kelompok kami tanpa bantuan slide PowerPoint. I know right, I could get cocky and I did. Shut up! Someone had to put it right and save some lame asses from apocalypse.

Damn! That pussy was good! –@vngnc

Setelah kelas berakhir, aku pun berubah jadi guru privat sekejap yang mengajari para mahasiswa kelahiran 96-97 ini tentang Google Drive, DropBox dan cloud storage lainnya. Supaya dialog drama tragedi ‘flashdisk ketinggalan di kos’ tidak terulang kembali.

Aku bahkan memberi mereka penjelasan 2 SKS tentang Prezi dan kawan-kawannya, supaya mahasiswa yang masih hijau ini tahu kalau PowerPoint itu seharusnya dikandangkan di penangkaran satwa langka.

Sejak itu anak-anak ini mulai menganggapku Zeus, dewa teknologi. Keren? You don’t know how much I hate it! Aku jadi kayak Google Berjalan!

For God sake! Google Search itu gratis! Kenapa nggak dipake?

You can learn anything from the internet. Cukup ketikkan kata kuncimu, atau kalau kamu konservatif (baca: malas) cukup ngomong aja sama smartphone-mu.

“OK Google, foto sexy Ariel Tatum!”

Voila! Malam minggu seorang jomblo ngenes pun terselamatkan!

Aku tadinya berniat menceritakan semua pengalamanku tentang anak-anak muda yang berjalan melawan arus ini. Mulai dari yang nggak ngerti apa itu Apple ID tapi ngotot beli iPhone. Punya fitur NFC di handphone tapi masih pakai stiker T-CASH. Pengen bikin startup Android Apps tapi nggak mau belajar coding. Ada juga yang ngakunya gamer, tapi doyan beli DVD game bajakan. Ngakunya ngefans sama artis tertentu tapi koleksi musiknya bajakan, nonton film juga bajakan.

Padahal saat ini produk digital sudah sangat terjangkau. Steam sering diskon gila-gilaan untuk game, ada Netflix, iflix dan catchplay dan sejenisnya untuk nonton film, TV series dan drakor. Untuk musik juga ada aplikasi streaming yang gratis seperti JOOX atau Spotify, kenapa harus beli atau download mp3 bajakan lagi?

But, this far, I believe you’ve got my point.

Kebodohan itu nggak ada obatnya selain kemauan untuk belajar. Saat ini, siapapun bisa mempelajari apapun. Akses internet bukan lagi barang mewah. Bila dulu orang bijak berkata: “Buku adalah jendela dunia,” maka bayangkan betapa luar biasanya potensi internet di genggamanmu.

Bukan hanya untuk hiburan, kamu seharusnya mulai melihat internet sebagai sebuah sarana pembelajaran. Ada banyak situs-situs hebat layaknya universitas digital yang bisa membantumu belajar banyak hal. Mulai dari bahasa asing, bahasa pemrograman, robotics, bahkan rocket science!

Gelombang era digital telah tiba dan tidak bisa dilawan. Kamu harus memanfaatkannya seperti peselancar memanfaatkan ombak, atau kamu akan terombang-ambing dan terhempas.

Aku tahu, beberapa di antara kalian juga orang-orang cerdas. Kalian mungkin jauh lebih maju dari pada kami. Tapi tidak ada salahnya untuk berbagi. Lagi pula, dengan aktif menularkan kebiasaan digital, kalian bukan hanya membantu orang lain, kalian juga memudahkan diri kalian.

Bayangkan bila suatu saat nanti kalian bisa rapat internal mingguan dengan tim kerja di ruang tamu kalian cukup dengan smart-TV dan Skype!

“Ah, yang lain pasti nggak mau, karena ribet!”

Makanya jangan pelit ilmu. Bantu dong mereka. Ini tidak instant, kamu harus melakukannya dengan pendekatan yang baik—terutama untuk mereka yang ‘tidak muda’.

“Tapi smart-TV kan mahal, nggak semua orang punya!”

Nah, ketahuan! Berarti wawasanmu masih belum luas, kawan. Punya Smart-TV bukan berarti harus beli flagship pabrikan ternama yang harganya senilai sepeda motor. Dengan android, setiap TV saat ini bisa jadi smart-TV. Silahkan riset sendiri, Google is your friend.

Ingat, setiap kesulitan adalah tantangan yang membawa kita naik ke level yang lebih tinggi. Semakin sulit yang kamu hadapi, akan semakin hebat pula dirimu setelahnya.

Perjuangan masih panjang, sobat. Teruslah belajar. Aku pun demikian.

Go Digital!