Malam itu guyuran hujan mendadak menyambut langkahku yang tergesa. Entah dari mana koordinasinya, akurat sekali—nggak beda jauh dengan ‘birthday surprise’ zaman SMA dulu. Apes, pikirku. Tapi segera kusingkirkan gerutuku. Dalam segala sesuatu, aku selalu diuntungkan. Ini keyakinanku. Seperti sebuah mantra yang selalu aku lafalkan. Aku pun segera menarik nafas panjang, memasang senyum lebar dan menyalakan mesin mobilku. Keyakinanku terbayar 30 menit kemudian saat aku mencium aroma Kopi Vietnam di My Coffee Burger.

My Burger Coffee adalah sebuah kafe dan resto yang terletak di Jalan Sei Petani, masih di sekitaran Jalan Abdullah Lubis. Kafe ini selalu ramai disambangi oleh pengunjung—terutama anak-anak muda—untuk meetup dengan teman lama atau sekedar nongkrong sambil bermain dam batu (sebutan khas Medan untuk gaplek, bedanya menggunakan kartu dari acrylic seperti buah mahjong).

Aku parkir tidak jauh dari pintu samping kafe itu, dari luar pagarnya terlihat meja-meja yang berpayung kanopi. Di bawah penerangan lampu pijar yang temaram terdengar sayup-sayup keriuhan khas kedai kopi. Hujan di luar masih garang, tapi penghuni kafe ini sepertinya tidak perduli.

Sambil memeluk Chromebook aku cepat-cepat berlari keluar mobil menuju pintu samping itu. Sekilas ku lihat, hampir semua meja di area outdoor itu penuh, terlihat beberapa hookah berdiri di meja-meja itu. Tidak bijak rasanya memilih untuk duduk di dekat pemain dam batu yang sedang asyik tertawa dan mengisap shisha. Aku kembali berlari menuju pintu utama untuk masuk ke dalam gedung.

Di area indoor terdapat satu meja kosong, dan… di sebelahnya juga ada segerombolan anak muda yang menggabungkan dua meja menjadi satu. Mereka tidak main dam batu. Mereka main kartu Uno. Masing-masing ditemani segelas teh manis dingin (orang Medan bilang: Mandi).

Pasrah saja, aku tidak begitu berniat untuk mencari tongkrongan lain. So, I made peace with my mind and take the table. Setidaknya tingkat kebisingan di sini tidak separah yang di luar. Saat waitress datang membawakan menu, aku langsung menanyakan “kopi apa yang paling bestselling di sini, mbak?”

Kopi Vietnam

 

Sekitar lima menit kemudian si mbak tadi kembali dengan sebuah nampan, dia meletakkan secangkir kopi vietnam yang masih bertumpuk dengan Vietnam Drip-nya. Terlihat di dasar cangkir kopi ada sekitar 2 sendok makan susu kental manis sementara ekstrak kopi sudah mulai menetes dari lubang-lubang dripper.

Waktu aku tanya si mbaknya “ini biji kopi dari mana, arabika ya?”, dia menjawab dengan gesture yang aneh,  “wah… kurang tahu ya mas, tapi kayaknya sih dari Aceh mas, bukan dari Arab!” Lalu si mbaknya pun ngeloyor meninggalkanku yang hanya bisa melongo.

Setelah tersadar dari longoan (kan tadi melongo), aku membuka tutup wadah Vietnam Drip yang bentuknya mirip topi mafioso ini. Kalau dari krema dan aromanya, aku masih familiar. Mungkin kopi ini memang Aceh Gayo. Tapi, sepertinya sudah tidak terlalu fresh, aromanya agak terpendam. 

My Burger Coffee Waffle

Sementara menunggu ekstrak kopi menetes, aku juga memesan waffle nutella. Dipanggang tidak terlalu lama supaya ekstra lembut seperti pesananku.

Malam itu tidak seburuk kelihatannya, kawan. Seperti yang tadi aku bilang, dalam segala sesuatu, aku percaya, aku sedang diuntungkan. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan, tapi bila kau mundur sedikit ke belakang untuk melihat gambar besarnya, kamu akan mengerti. Banyak orang terlalu cepat menilai situasi dan selalu menggerutu pada setiap riak kehidupan.

Pelaut yang handal tidak diciptakan dari laut yang tenang.

 

My Burger Coffee menyebut menu kopinya ini sebagai Viet Cong Coffee, karena kopi ini disajikan hangat dengan susu kental manis, tanpa es batu sebagaimana yang diminum oleh Mirna. Sejujurnya, melihat perilaku si mbak yang bilang kopi ini bukan dari Arab tadi, aku sempat membayangkan sebuah skenario yang melibatkan sianida.

Tapi kalaupun itu terjadi, aku tetap percaya, dalam segala sesuatu, aku sedang diuntungkan.