“Aku sudah muak dengan prokrastinasi ini!

Aku sudah muak menunda-nunda pekerjaan dan menghabiskan waktuku dengan scrolling timeline Twitter, stalking Facebook dan ngepoin Instagram mantan yang nggak seberapa itu!

Aku sudah muak dengan perasaan bersalah dan cemas karena kerjaan yang nggak kunjung kelar dan semakin menumpuk.”

“Aku berjanji! Aku akan berubah, aku akan lebih produktif, dimulai dari… Besok!”

Aku nggak tahu udah berapa kali ‘bullshit’ semacam ini terlontar dari mulutku yang hina ini. Aku juga yakin, aku tidak sendirian. Ada jutaan orang di luar sana juga memiliki masalah yang sama denganku.

Prokrastinasi.

Rasanya sangat nikmat. Percayalah.

Nikmat yang membawa sengsara!

 

Apa itu prokrastinasi?

Prokrastinasi secara etimologi berasal dari bahasa Latin, Procrastinare/Procrastinatus, yang artinya adalah menangguhkan ke hari esok. Tujuan dari procrastinatus ini adalah efisiensi. Menunda pekerjaan-pekerjaan kecil untuk dikerjakan sekaligus agar lebih efisien.

Misalnya: hari ini kamu memiliki sepasang pakaian kotor, tentu rasanya akan sangat mubazir dan nanggung untuk langsung dicuci hari itu juga. Jadi kamu memutuskan untuk menunda dan menunggu beberapa hari lagi hingga terkumpul sekitar 4-5 pasang pakaian kotor lalu kamu cuci, sehingga lebih efiesien, hemat tenaga, hemat air, hemat deterjen, hemat waktu.

Ehhmm. Aku juga pernah jadi anak kos.

Nah, menyimak penjelasan di atas, kamu mungkin akan berpikir, apa yang salah dengan prokrastinasi? Bukankah tujuannya baik?

Ya! Itu salah satu poin penting kenapa aku menulis tentang prokrastinasi. Karena banyak orang yang menyalahkan prokrastinasi, padahal yang kebablasan adalah dirinya sendiri.

Berarti ada prokrastinasi yang baik dan ada prokrastinasi yang buruk?

Ngawur!

Prokrastinasi hanya sebuah kata kerja, sebuah predikat, yang menjadi penentunya adalah subjeknya. Maka pertanyaannya adalah: untuk apa prokrastinasi tersebut dilakukan?

Mari kita simak contoh situasi berikut ini:

Pernahkah kamu menunda saat kamu ingin main game favoritmu? Atau kamu menunda menonton film serial favoritmu di Netflix? Ngumpul, hangout dan nongkrong bareng sohib atau gebetanmu? Chatting dengan kenalan-kenalan baru di sosmed? Stalking Instagram mantan? Infinite scrolling timeline Twitter atau Facebook sampai akhirnya nyungsep di situs-situs gosip tentang JustinWhoBelieveHer? Pasti sangat jarang!

Tapi bagaimana dengan merapikan tempat tidurmu atau kamarmu yang berantakan? Atau mencuci pakaian-pakaian kotormu yang sudah seminggu menyebarkan bau mayat? Mencuci piring bekas Indomie tadi malam atau menyelesaikan revisi Bab I skripsimu yang sudah bolak-balik ditegur dosen pembimbingmu? Pernahkah kamu menunda? Sering sekali!

Nah, sekarang kamu mulai mengerti.

Sisi gelap dari prokrastinasi sebenarnya bukan terletak pada bagian menunda-nunda…

Tapi, lebih ke arah MENGHINDARI hal-hal atau kegiatan atau pekerjaan atau kewajiban yang kurang kamu sukai dan alih-alih mengerjakannya kamu menggantinya dengan kegiatan lain yang lebih kamu sukai.

Kamu bisa mengamati pola dan mengenali gejala-gejalanya.

mengatasi prokrastinasi

Misalnya:

Mungkin, saat ini sebenarnya ada sesuatu yang seharusnya kamu kerjakan di luar sana. Tapi alih-alih mengerjakannya, kamu malah berkeliaran di internet dan terdampar di blog ini dan…

membaca tulisan yang menamparmu dengan telak!

Jangan keburu tersinggung dulu. Seperti yang sudah aku ceritakan di awal artikel ini, prokrastinasi itu memang nyaman dan menyenangkan, namun aku yakin prokrastinasi juga menyisakan perasaan bersalah dan kecemasan yang terus mengintaimu.

Aku tahu itu, karena aku juga mengalaminya.

Perkenalkan, aku Evan, seorang prokrastinator ulung.

Lalu kenapa aku menulis artikel ini? Apakah karena aku sudah sembuh dari prokrastinasi?

Belum! Bahkan faktanya, belum ada satu orang pun di muka bumi ini yang benar-benar sembuh dari prokrastinasi.

Prokrastinasi Tim Urban

Tim Urban adalah seorang penulis/blogger yang terkenal dengan buku dan blognya Wait But Why. Buku, blog dan seminar-seminarnya berfokus tentang prokrastinasi, dia bahkan diundang untuk menjadi salah satu pembicara di acara TED Talks, sebuah konferensi tahunan di mana orang-orang dengan ide-ide hebat dari seluruh dunia berkumpul.

Tim Urban adalah seorang expert di bidang Prokrastinasi

Apakah dia sudah berhasil mengalahkan prokrastinasi?

Nope!

What?! Didn’t you just said he’s an expert?

Yep! He’s an expert procrastinator!

Di dalam blog dan bukunya, Tim Urban banyak bercerita tentang perjuangannya sehari-hari melawan prokrastinasi. Kalian bisa tonton video TED Talks-nya di bawah untuk bisa mengenalnya sedikit lebih dekat.

Tim Urban, seorang expert procrastinator, setiap hari berjuang melawan prokrastinasi agar bisa mengeluarkan semua potensi terbaiknya, begitu juga dengan aku dan kalian, tidak peduli apakah kalian prokrastinator level amatir ataupun ekspert. Kabar baiknya, kita bisa mengambil alih kemudi dan mengendalikan prokrastinasi dan tidak membiarkan dia yang mengendalikan kita.

Bagaimana caranya? Di bawah ini kamu bisa menyimak beberapa poin-poin yang aku angkat dari pengalamanku sendiri berjuang melawan prokrastinasi:

1. Set A Deadline

Prokrastinasi sering sekali bermula dari sebuah project atau kegiatan yang belum atau tidak memiliki batas waktu yang jelas. Misalnya, sebuah project pribadi yang kamu rencanakan untuk menurunkan berat badanmu.

Ya!

Aku tahu, beberapa di antara kalian tertawa.

Pengalaman pribadi.

Project ini tidak pernah selesai, atau bahkan lebih buruk lagi, project ini tidak pernah benar-benar dimulai sama sekali. Project ini hanya mitos.

Kenapa? Karena kamu belum menentukan deadline atau batas waktumu. Project pribadi semacam ini membutuhkan disiplin diri yang kuat, karena di sini kamu boss-nya. Tidak ada yang akan mengingatkanmu untuk tetap berada di jalur yang tepat.

Untuk itulah deadline dibutuhkan.

Buka handphone atau gadget-mu, kamu akan menemukan fitur kalender yang aku yakin mayoritas di antara kalian jarang memakainya, atau bahkan tidak tahu fungsi lainnya selain menunjukkan tanggal. Kalian bisa memasukkan deadline kalian di sana. Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur pengingatnya.

Kalau kalian berjiwa retro, silahkan beli agenda sungguhan, lalui tandai tanggal deadline kalian, catat setiap progress-nya dan bawa selalu kemana-mana.

Dengan meluangkan waktu untuk menetapkan deadline, otak kita pada umumnya akan memproses informasi tersebut lebih intens dari biasanya dan mengasosiasikannya dengan ingatan jangka panjang kita. Dengan adanya deadline, kita akan merasakan adanya tekanan atau rasa urgent yang mendorong kita untuk mencapai target tersebut sebelum deadline.

Pada dasarnya, kita semua memang seperti lembu, terkadang harus dipecut dulu baru berlari.

2. Mutilate The Project

Terkadang deadline saja tidak cukup.

Ada beberapa project atau kegiatan yang kita prokrastinasikan bukan karena tidak ada deadlinenya. Deadline sudah jelas, dan resikonya juga jelas. Namun ada sesuatu yang membuat kita jadi malas dan menghindarinya.

GODZILLA!

(Whaatt?!)

Ya, the Godzilla projects. Tugas-tugas atau kegiatan yang sangat besar dan massive yang membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga yang banyak untuk menyelesaikannya.

Contohnya: Skripshit!

You can’t fight this monster by facing him 1-by-1

You’re not Power Rangers and you don’t have any MegaZord for that!

But you can use some Omnislash here. 🙂

Mutilasi project-nya!

Potong-potong, cincang, jadikan saksang!

Intinya, tugas-tugas Godzilla ini kelihatan besar karena kamu memikirkannya secara keseluruhan. Jangankan Godzilla, ayam saja tidak bisa langsung kamu makan dalam keadaan utuh. Kamu harus memotong-motongnya terlebih dahulu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Paha atas, paha bawah, dada tulang, dada montok.

Diet pun kembali terancam. Skip!

Skripshit terlihat mengerikan karena kamu langsung memikirkan bagian tersulitnya. Buka worksheet Excell mu, mulailah memilah-milah dan membagi setiap langkah pengerjaannya dalam tahapan-tahapan singkat yang bisa diselesaikan dalam 2-3 jam.

Pastikan untuk memberi jeda diantaranya, dan jangan lupa memberikan dirimu reward. Bila kamu hanya berhadapan dengan jari kelingking Godzilla ini 1 jam di pagi hari, 1 jam sore hari, 1 jam malam hari, kamu tentu tidak kewalahan.

Padahal tanpa kamu sadari kamu telah mengerjakan Skripshit tersebut sekitar 18-20 jam/minggu atau sekitar 80 jam/bulan. Kamu pun heran, tau-tau si Godzilla yang besar tadi sudah habis kamu makan, dan Skripshit pun berubah menjadi Skripsweet.

3. Sterilized yourself

Oke, pertama-tama aku mau mengklarifikasi perihal judul di atas, bahwa yang perlu kamu sterilkan itu bukan yang dibawah sini. *menunjuk selangkangan*

(Awkward…)

Deadline sudah ada, Godzilla sudah di sate, jadwal sudah disusun rapi, tapi prokrastinasi masih tetap saja datang?

Itu artinya kamu sudah terjangkit prokrastinasi stadium tinggi. Tindakan medis yang harus segera diambil untuk menyelamatkan masa depanmu adalah: sterilisasi zona tempurmu.

Singkirkan benda-benda yang bisa memancing dan menggodamu untuk membelot dari tugas dan mengkhianati cita-cita bangsa dan negara ini.

Bila sudah tiba waktunya untuk bertempur (sesuai dengan jadwal waktu yang sudah kamu tentukan di tabel mutilasi), singkirkan handphone, koneksi internet, boneka barbie dan sabun dari kamar kerjamu.

Bila kamu punya pacar super posesif yang setiap lima menit selalu memeriksa kordinat lokasimu, menanyai kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa, silahkan di uninstall dulu. Nanti setelah project selesai baru kamu install ulang, mana tahu dapat update-an terbaru.

Disclaimer: tindakan meng-uninstall pacar merupakan saran yang bersifat absurd dan bertujuan edukatif semata. Segala akibat yang ditimbulkan dari hal-hal tersebut bukan tanggung jawab penulis.

Oke, sekian dulu bahasan kita kali ini tentang Prokrastinasi.

Sebenarnya, aku masih ingin membahas lebih detil tentang penyakit yang namanya keren ini. Tapi aku pun juga harus berdamai dengan diriku setelah berhasil menyelesaikan paragraf terakhir artikel ini.

Apakah kalian juga seorang prokrastinator?