Aku tidak malu untuk mengakuinya, salah satu film terfavoritku adalah film India. Iya, film India yang kalau jumpa pohon pemerannya langsung joged-joged dan nyanyi-nyanyi itu! Film itu berjudul 3 Idiots.

Beberapa tahun yang lalu seorang teman dari sebuah forum menyarankan film ini yang tentu saja waktu itu aku tolak mentah-mentah karena jelas-jelas film India itu bisa mengancam kesehatan mentalku yang memang sudah terganggu ini.

Film itu dibintangi oleh Aamir Khan yang memerankan Rancho Chanchad, seorang mahasiswa absurd yang berpikir sangat-sangat out of the box dan menginspirasi dua teman akrabnya untuk mengikutinya.

Film ini berhasil mengaduk perasaanku –jujur, seumur hidup hanya segelintir film yang mampu mengacak-acak perasaanku, dan brengseknya, salah satu film lain itu adalah PK yang juga dibintangi oleh Aamir Khan, tapi aku akan membahas PK di lain waktu saja.

Masih Ingat 3 Idiots? Inilah Sonam Wangchuk, The Real Phunsukh Wangdu

phunsukh wangdu dari 3 idiots

Film 3 Idiots ini menghadirkan 3 jam pertunjukan yang membuatmu tertawa terbahak-bahak dan menangis bombay dengan tenggorokan tercekat. Bila kalian belum menontonnya, jangan buang-buang waktu kalian, carilah DVD-nya segera, beli yang original! Nggak semahal nonton di XXI atau Blitz koq, tapi aku yakin kalian akan mensyukurinya. Karena film ini telah mengajariku banyak golden rules yang benar-benar mengubah caraku berpikir untuk selamanya.

“Masalah apapun yang terjadi dalam hidupmu, katakanlah pada dirimu: ‘Aal Izz Well’… Ini memang tidak akan membuat masalahmu selesai, tapi ini akan memberimu keberanian untuk menghadapinya…”
“Chase exellence and success will follow…”
“Hidup ini bukan hanya sebatas perjuangan untuk mencapai nilai yang bagus atau pendidikan yang tinggi, hidup ini adalah kesempatan untuk mengejar mimpi-mimpimu.”
“Insinyur itu orang-orang pintar, tapi mereka belum bisa menemukan alat untuk mengukur tekanan mental”
“Ini universitas. Bukan panci masak bertekanan tinggi yang hanya membuat pikiran orang tertekan.”
“Itulah akibatnya bila kamu belajar hanya dengan menghapal tanpa memahami. Kamu akan menghabiskan 4 tahun untuk belajar dan 40 tahun untuk menyesali.”
“Sangat mudah memberi nasehat, tapi sulit menjalaninya.”
“Kamu tidak bisa terus-terusan benar!”
“Negara kita sungguh aneh, ada jaminan untuk pizza akan tiba dalam 30 menit, tapi ambulans…??”
“Jika terlintas pikiran bodoh untuk menyerah di otakmu, pandanglah foto orangtuamu dan bayang kan apa yang terjadi pada senyum mereka jika kau mati?”

Ada puluhan kata-kata bijak lainnya yang terus menghujanimu sepanjang film 3 Idiots ini, aku nggak habis pikir berapa lama mereka menyusun naskah film yang sangat berbobot ini. Dunia membutuhkan lebih banyak tontonan pembuka pikiran seperti ini.

Oke, aku nggak mau panjang lebar soal filmnya, kamu bisa tonton sendiri 3 Idiots di rumahmu. Tujuan utamaku menuliskan artikel ini sebenarnya untuk menumpahkan perasaan ‘kupu-kupu di perut’ yang melandaku beberapa hari yang lalu. Aku melihat sebuah artikel yang mengungkap siapa tokoh nyata yang menjadi inspirasi dari karakter yang diperankan Aamir Khan di film 3 Idiots ini, Phunsukh Wangdu. Karakter yang menjadi sumber inspirasi utama film ini, yang mengajari kita untuk berpikir berbeda tentang cara belajar dan mempraktekkan pengetahuan kita untuk kepentingan orang banyak.

Sonam Wangchuk Real Phunsukh Wangdu

Dia adalah Sonam Wangchuk, seorang Insinyur berusia 50 tahun yang baru saja menerima penghargaan bergengsi dari Rolex Awards of Enterprise 2016. Penghargaan yang dianugerahkan pada Selasa lalu di Los Angeles dikhususkan untuk ‘mereka yang telah mengubah dunia dengan cara berpikir mereka yang inovatif dan dinamis’. Sonam Wangchuk memenangkan penghargaan tahun ini untuk salah satu proyeknya yang bernama “Ice Stupas” atau stupa-stupa es.

Stupa-stupa es tersebut adalah penemuan Sonam Wangchuk untuk mengatasi masalah krisis air yang dialami masyarakat pertanian di dataran gurun Himalaya barat. Daerah ini terletak di ketinggian 3500 meter di atas permukaan laut, di antara pegunungan Kunlun dan Himalaya. Secara alami, karena faktor ketinggian tersebut, pada bulan April-Mei daerah ini akan mengalami defisit air yang berat, padahal pada bulan-bulan tersebut adalah bulan terbaik untuk bisa mulai menanam tanaman.

Ice Stupa Sonam Wangchuk
Stupa Es karya Sonam Wangchuk di Ladakh

 

Sonam Wangchuk mengembangkan sebuah sistem yang sederhana dan efektif untuk mengatasi kekeringan ini. Dia membangun sebuah kubah dari es pada musim dingin yang akan berfungsi seperti glasier mini pada musim menanam dengan mengeluarkan debit air yang tersimpan di dalamnya perlahan-lahan. Karena bentuknya yang seperti kubah kerucut, Sonam menamainya Ice Stupa.

Sonam menyatakan bahwa dana penghargaan yang dia terima dari Rolex Award sepenuhnya dia berikan untuk pengembangan Ice Stupa itu di daerah-daerah yang mengalami masalah air karena perubahan iklim di dataran tinggi Himalaya, sehingga masyarakat di sana bisa kembali bercocok tanam tanpa kekurangan air. Dia hendak membangun sekitar 20 stupa es berketinggian sekitar 30 meter yang mampu menyuplai jutaan liter air ke lahan-lahan pertanian di sana.

SECMOL sekolah Sonam Wangchuk Phunsukh Wangdu 3 Idiots
SECMOL – sekolah yang didirikan Sonam Wangchuk

Bukan hanya itu, satu hal yang membuat kita sangat mengingat keunikan karakter Phunsukh Wangdu ternyata memang ada pada Sonam Wangchuk. Dia baru saja membangun sebuah sekolah khusus yang bernama SECMOL (Students Educational and Cultural Movement of Ladakh).

Di sekolah ini, dia bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan praktikal, bukan dengan menghujani anak-anak didik dengan teori-teori dari buku-buku saja. Sekolah ini juga menampung anak-anak yang dianggap gagal mengikuti standar masyarakat secara pendidikan formal.

Persis seperti karakter Phunsukh Wangdu di 3 Idiots, Sonam Wangchuk meyakini bahwa memaksa anak-anak menghapal semua pelajaran hanya akan membunuh kesenangan dalam proses belajar itu. Cara belajar seperti itu lambat laun akan mengikis kepercayaan diri pada anak tersebut.

Sungguh menyenangkan rasanya, orang-orang seperti Sonam Wangdu benar-benar ada di dunia ini. Karena memang bukan hanya di India saja, di Indonesia juga sistem pendidikannya masih sama. Banyak anak-anak dipaksa mengikuti standar akademik saja, orangtua mengidam-idamkan nilai-nilai dan peringkat kelas yang baik, tanpa memperhatikan softskills si anak. We have to fix this, immediately!

“If failures can achieve what toppers dream of, then there is something wrong in the system”
– Sonam Wangchuk, the real Phunsukh Wangdu