Apa itu Blockchain? (Crypto Basic Series by Evan Stinger)

TL;DR Apa itu Blockchain?
Blockchain adalah
sebuah teknologi yang memungkinkan penggunanya untuk bertransaksi (mengecek, mengirim atau menerima) bermacam aset digital (seperti uang digital atau properti digital) tanpa menggunakan perantara (pihak ketiga). Blockchain merupakan platform yang aman karena terdesentralisasi, transparan, tidak bisa dipalsukan, dan tidak bisa disensor/dibatalkan (immutable) oleh siapapun termasuk pemerintah.

Percayalah, aku menghabiskan hampir setengah jam berpikir keras untuk membuat abstrak TL;DR di atas. Menjelaskan apa itu Blockchain dalam satu paragraf sebetulnya sangat mustahil.

Jadi, apa yang kalian baca di atas itu hanya pemahaman praktis tentang Blockchain menurut salah satu kegunaan populernya: Platform untuk Cryptocurrency.

Sekarang aku akan mengajak kalian untuk memahami Blockchain lebih dalam. Semaksimal mungkin, aku akan berusaha menjaga artikel ini tetap menggunakan bahasa yang bersahabat. #fingercrossed 😛

Apa itu Blockchain?

Blockchain adalah sebuah public ledger atau sistem pencatatan transaksi yang transparan pada database yang tersebar luas di jejaring komputer, di mana setiap komputer itu memiliki salinan catatan yang identik. Seluruh komputer ini terhubung secara peer-to-peer (P2P), sehingga sifatnya decentralized/terdesentralisasi.

Kenapa P2P dan sifat terdesentralisasi ini penting? Karena dengan begini, data/catatan transaksi tersebut hampir mustahil untuk di-hack atau dimanipulasi secara sepihak.

apa itu blockchain, peer-to-peer
Blockchain: Setiap komputer yang terhubung secara P2P menyimpan salinan yang identik

Blockchain, literally, ‘block‘ dan ‘chain‘. Block adalah kumpulan data yang ‘dikemas’ dalam bentuk block-block identik lalu disusun secara berurutan sehingga berbentuk rantaian block (chain). Setiap block data berisikan tiga hal penting, yaitu:

  1. Data Transaksi (siapa mengirim apa, seberapa banyak dan kepada siapa). Data ini juga menyatakan berapa saldo pengirim dan penerima dan perubahannya setelah transaksi ini divalidasi.
  2. Time stamp. Tanggal dan waktu transaksi menurut waktu server.
  3. Hash. Semacam sidik jari digital yang dikodekan menggunakan cryptography. Setiap block berisikan hash yang merupakan hasil komputasi dari hash block sebelumnya ditambah dengan block ini.

Kalau kamu memperhatikan poin ketiga di atas, kamu akan menyadari bahwa setiap block memiliki ‘sidik jari‘ unik yang dihasilkan dari menambahkan sidik jari block sebelumnya dengan data transaksi block tersebut lalu dienkripsi dengan cryptography.

Sehingga, kamu tidak bisa memasukkan block baru di antara dua block yang sudah ada karena sidik jarinya tidak akan nyambung, atau kalau kamu ingin memanipulasi data dari sebuah block, kamu harus mengubah seluruh hash pada block sebelumnya juga, dan block sebelumnya, dan sebelumnya sampai block paling pertama (genesis block). #capedeh! 😛

Jadi, ngerti kan kenapa Blockchain itu hampir mustahil untuk di-hack atau dimanipulasi secara sepihak?

Nah, lalu siapa yang menentukan kalau data dari block yang baru dimasukkan itu benar/valid? Bagaimana kalau salah satu dari komputer tersebut curang atau katakanlah salah input?

Itulah sebabnya Blockchain menggunakan protokol Konsensus.

apa itu blockchain dan konsensus
Blockchain: rantaian block data yang divalidasi oleh konsensus

Apa itu protokol Konsensus?

Secara literal, Konsensus adalah sebuah kondisi di mana seluruh pihak yang terlibat menyatakan setuju/sepakat. Sementara, protokol adalah serangkaian peraturan. Jadi, protokol Konsensus adalah serangkaian aturan yang harus diikuti agar seluruh pihak sepakat/setuju.

Perhatikan gambar di atas. Saat sebuah block baru hendak ditambahkan ke blockchain, maka seluruh network yang terlibat harus sepakat (Konsensus) barulah block tersebut boleh ditambahkan ke blockchain.

Tentunya, seluruh network itu sepakat karena data pada block tersebut sesuai dengan salinan yang mereka miliki di komputer mereka dan dikomputasi sesuai protokol Konsensus yang berlaku.

Ada beberapa jenis protokol Konsensus, tiap Blockchain bisa menggunakan protokol Konsensus yang berbeda. Ada Proof of Work (POW), Proof of Stake (POS), Delegated Proof of Stake (DPOS) dan beberapa kombinasi lainnya. Kita akan membahas lebih detail soal ini di postingan lain yah, karena beberapa penumpang sepertinya sudah mulai muntah-muntah. 😀

Kenapa harus Blockchain? Apa bedanya dengan sistem konvensional?

Untuk memahami Blockchain aku berpendapat kalau kita sebaiknya lebih dulu memahami sisi praktis dan manfaatnya ketimbang teknisnya, karena akan lebih mudah memahami sesuatu yang kita hadapi sehari-hari dari pada sederetan istilah berbahasa dewa. 😀

Jadi, untuk memahami apa itu blockchain dan kenapa sebaikany menggunakan blockchain, kita harus membandingkannya dengan sistem konvensional yang selama ini umum kita gunakan.

Sistem konvensional (memberi kepercayaan pada pihak ketiga).

Bukaaan! Bukan pelakor atau pebinor, pihak ketiga di sini maksudnya perantara. #hadeeh 😛

Jadi begini bosque, misalkan kita lagi ngopi di Starbucks, dan kita hendak membayar pesanan kita menggunakan kartu kredit atau e-wallet, sebenarnya meskipun bosque membayar sambil bertatap muka langsung dengan baristanya yang cakeup itu, sebenarnya ada orang ketiga di antara bosque dan barista cakeup itu.

Hah!? Maksud loe setan, tong?

Woyy!! Perantara!

apa itu blockchain
Transaksi konvensional menggunakan perantara pihak ketiga

Jadi, pada transaksi konvensional pembeli dan penjual sebenarnya TIDAK saling mempercayai, tetapi sama-sama mempercayai pihak ketiga sebagai mediator dan penjamin terlaksananya transaksi.

Saat kamu menggesekkan kartu kredit/debitmu kamu mempercayakan pada bank penerbit kartu dan jaringan kartu kredit/debit untuk mengirim uang, dan vendor mempercayai mesin POS atau EDC tadi telah menerima uang yang dikirimkan oleh bank penerbit kartumu.

Bagaimana? Kurang romantis kan?

Sistem Blockchain (tanpa menggunakan perantara).

Apabila transaksi tersebut menggunakan Blockchain, maka tidak diperlukan pihak ketiga sebagai perantara transaksi. Pembeli dan penjual dapat bertransaksi langsung melalui jaringan Blockchain, di mana seluruh komputer yang terhubung di jaringan tersebut akan menjadi saksi yang memvalidasi proses transaksi tersebut.

apa itu blockchain

Jadi, kalau sekiranya tadi kita membayar kopi dengan menggunakan Blockchain (pembayaran menggunakan cryptocurrency, misalnya: Bitcoin), maka transaksi terjadi secara langsung, di mana pembeli mengirim langsung Bitcoin dari alamat dompetnya (wallet) ke alamat dompet si penjual. Peristiwa transfer ini akan disaksikan dan divalidasi oleh network.

Nah, tentu akan lebih efisien dan mudah bukan? Tidak perlu lagi repot-repot menggunakan jasa pihak ketiga seperti Bank atau jaringan Kartu Kredit, sehingga memangkas biaya/processing fee.

Tapi kali ini, kita akan rampungkan dulu pembahasan tentang Blockchain, karena ini merupakan pondasi utama sebelum kamu mencoba memahami Bitcoin dan cryptocurrency lainnya.

Loh, jadi Bitcoin dan Blockchain itu berbeda?

Beda dong! Tapi masih berhubungan, obviously. Bitcoin adalah cryptocurrency pertama yang berkembang luas dan merupakan buah dari keberhasilan pendirian jaringan Blockchain terdesentralisasi pertama di dunia. Pelajari tentang apa itu Bitcoin di sini.

Jadi, Blockchain itu nama dari sebuah teknologi, bukan app, bukan perusahaan, bukan merk, dan bukan mata uang digital. Blockchain adalah platform, sebuah ekosistem, tempat di mana seluruh komputer yang terhubung saling berlomba untuk mencatatkan data dari block data baru ke rantaian blockchain menurut protokol konsensus yang disepakati, sehingga rangkaian catatan data transaksi akan terus ter-update dan tervalidasi.

Nah, kenapa pemilik komputer-komputer itu mau repot-repot berpartisipasi dalam jaringan Blockchain untuk memvalidasi transaksi antar pengguna lain? Karena komputer-komputer ini menerima reward untuk memvalidasi block-block data tersebut.

Memahami apa itu Blockchain tidak bisa hanya dari membaca sebuah uraian teknis saja, tapi harus dari perspektif praktisnya. Yuk, kita coba pahami melalui contoh kasus/analogi di bawah ini.

Analogi cara kerja Blockchain dan Block Reward.

Centralized Ledger (Pencatatan Transaksi Terpusat)

Di dalam sebuah kelas ada 20 orang murid, mereka sepakat untuk mengumpulkan iuran untuk dana kas kelas mereka. Mereka menunjuk Andi sebagai petugas untuk mencatat siapa saja yang sudah membayar iuran dan siapa yang masih menunggak.

Pada contoh ini, kelas Andi menggunakan sistem pencatatan terpusat (centralized), sehingga teman-temannya hanya bisa percaya sepenuhnya pada akurasi catatan Andi. Ada beberapa resiko pada sistem ini:

  • Andi bisa saja salah hitung atau salah catat (human error).
  • Buku catatan Andi bisa hilang, bisa menimbulkan keributan tentang siapa yang mengaku-ngaku sudah membayar atau belum.
  • Andi korup! Dia memanipulasi catatan dan menggelapkan sebagian dana.
  • Andi bisa dipengaruhi oleh teman-teman yang lebih dekat dengannya untuk menganggap mereka sudah bayar iuran, padahal belum.

Decentralized Ledger (Pencatatan Transaksi Terdesentralisasi)

Bagaimana jika kelas ini menggunakan sistem yang terdesentralisasi ala Blockchain? Jadi, mereka tidak mempercayakan sistem pencatatan pada satu pihak saja.

Misalnya, ada 10 orang yang volunteer untuk menjadi pencatat iuran kas kelas, tugasnya persis sama, jadi isi catatannya juga pasti akan sama. Maka semua resiko pada metode sebelumnya akan tereliminasi. Benarkah?

  • Apabila salah satu atau dua petugas yang mencatat mengalami kesilapan (human error), yang delapan orang lainnya punya catatan yang benar, sehingga dengan membandingkan rasionya, kelas akan lebih mempercayai catatan yang mayoritas, dan dua orang tadi bisa memperbaiki catatannya dengan meng-update mengikuti catatan mayoritas.
  • Apabila salah seorang pencatat kehilangan catatannya, yang lain masih ada sebagai back-upnya, kan nggak mungkin banget yang sepuluh-sepuluhnya itu hilang sekaligus!
  • Apabila salah satu pencatat mencoba memanipulasi catatannya, akan sia-sia karena catatan dari pencatat lain tidak menyatakan nilai yang sama, dan hasil catatannya tidak akan diterima mayoritas.
  • Apabila terjadi konspirasi oleh sekelompok murid untuk memanipulasi catatan dengan mempengaruhi pencatat, maka mereka harus mempengaruhi setidaknya 6 orang pencatat (suara mayoritas), yang mana akan sangat sulit sekali, hampir mustahil untuk dilakukan.

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan, apa yang memotivasi para pencatat ini untuk terus mengerjakan tugasnya dengan benar? Tentu karena mereka mengharapkan sesuatu sebagai imbalan jasa mereka bukan?

Cryptocurrency sebagai Block Reward dari Blockchain

Kita masih menggunakan analogi kelas Andi yah, di mana para pencatat yang 10 orang di kelas tersebut berlomba-lomba mengerjakan tugasnya karena ingin mendapatkan reward dari tugasnya.

Kita umpamakan lagi di contoh ini seluruh isi kelas ini adalah penggila mainan LEGO, dan mereka sepakat untuk memberikan sekeping LEGO setiap kali ada pencatatan yang akan terjadi.

Namun, tidak semua pencatat akan menerima reward ini, hanya pencatat yang paling cepat menyelesaikan sebuah soal quiz matematika lah yang akan mendapatkan reward.

Soal quiz matematika ini merupakan hitungan kompleks melibatkan hasil hitungan sebelumnya. (Misalnya: hasil hitungan quiz sebelumnya dikalikan tanggal pada hari tersebut lalu ditambahkan dengan jam pembayaran).

Jadi, ketika ada murid yang hendak menyetorkan iuran kas kelas, maka dia menyatakannya di depan kelas, seluruh petugas pencatat segera melihat jam dan tanggal hari tersebut dan mengecek hasil hitungan sebelumnya, lalu berlomba menghitung jawabannya.

Ketika salah satu menyatakan sudah mendapatkan hasil hitungan, pencatat lainnya melakukan validasi. Apabila hitungannya benar, maka pencatat tersebut menerima reward kepingan LEGO, dan data transaksi iuran tadi dicatatkan serentak di seluruh buku pencatat. Sehingga data yang dicatatkan di semua buku selalu sinkron, namun penerima reward tidak selalu sama.

Karena proses mendapatkan LEGO ini sulit dan butuh usaha, maka LEGO menjadi semacam mata uang bagi kelas ini, dan mulai diperdagangkan oleh para murid. Harganya dipengaruhi oleh permintaan atau penawaran.

Apabila kelas ini jumlah muridnya bertambah, maka permintaan juga akan bertambah padahal jumlah suplai tetap, sehingga harga akan naik seiring semakin banyak yang mengadopsi sistem tersebut.

Pada praktiknya dalam dunia Blockchain dan Cryptocurrency, para pencatat tersebut perumpaan dari Penambang (miners), mereka berkompetisi untuk mendapatkan block rewards yang merupakan native crypto-asset atau aset kripto bawaan/asli yang dihasilkan dari Blockchain tersebut.

LEGO pada analogi di atas merupakan perumpaan dari Bitcoin atau Ether atau Litecoin yang menjadi block rewards dari Blockchain tempat para penambang tersebut menambang.

Bitcoin: Buah dari Blockchain pertama

Blockchain terdesentralisasi pertama yang beroperasi dan berkembang global adalah blockchain Bitcoin yang dikembangkan oleh Satoshi Nakamoto (sebuah pseudonym, tidak ada yang tahu pasti siapa dia atau mereka) pada tahun 2008-2009.

Para penambang yang berpartisipasi menjadi bagian dari jaringan blockchain Bitcoin ini menerima Bitcoin sebagai block rewards.

Setiap Blockchain memiliki protokol Konsensusnya masing-masing, pada contoh analogi di atas, kelas Andi menerapkan protokol konsensus Proof of Work, di mana harus ada ‘usaha’ yang dikonfirmasi kebenaran hasilnya oleh pencatat lain.

Protokol Proof of Work ini digunakan juga oleh Blockchain Bitcoin, namun hitungan matematisnya jauh lebih kompleks dari perumpamaan di atas, sehingga untuk berkompetisi, para penambang berlomba menggunakan komputer/hardware khusus untuk memecahkan algoritma perhitungannya.

Sementara, algoritma perhitungan inipun semakin lama akan semakin sulit, sehingga menuntut penambang terus meng-upgrade hardware-nya.

Kenapa harga Bitcoin naik terus?

Sesuai analogi di atas, saat jumlah murid di kelas Andi bertambah, makin banyak yang menginginkan LEGO dan bertambah juga pencatat di antara mereka, maka persaingan untuk mendapatkan reward LEGO itu pun makin sulit.

Murid yang tidak mau repot bersaing akan memilih untuk membeli saja LEGO dari market, maka otomatis harga akan naik (karena permintaan bertambah sementara suplai tetap).

Begitu juga analogi sederhana tentang kenapa harga Bitcoin terus melonjak naik. Algorithma perhitungan matematis untuk menambang Bitcoin semakin rumit, bila dulu komputer (CPU dan GPU) biasa bisa digunakan untuk menambang Bitcoin, maka sekarang harus menggunakan hardware khusus (ASIC Miners) yang lebih mahal.

Kesulitan untuk menambang ini membuat semakin banyak orang yang lebih memilih untuk membeli saja Bitcoin dari market dari pada menambang, sehingga harga pun terus naik.

Tapi, ini masih belum sepenuhnya menjawab pertanyaan kenapa orang mau membeli Bitcoin?

Sebenarnya pembahasan soal Bitcoin secara spesifik ada di artikel selanjutnya, tapi di sini aku akan bahas sedikit soal sifat Blockchain yang membuat Bitcoin memiliki nilai yang kuat dan berpotensi kuat menggoncang sistem moneter yang selama ini kita gunakan selama ribuan tahun.

Sifat-sifat Blockchain yang membuatnya Penting dan Bernilai tinggi.

Blockchain merupakan sistem yang Transparan

Blockchain pada umumnya dikembangkan dengan konsep Open-source yang transparan, para developernya membuka source code-nya ke publik dan memberikan dokumentasi/white paper dengan penjelasan yang mendetail mengenai cara kerja, protokol dan implementasi sistem blockchain tersebut.

Sehingga siapapun bebas menilik, melakukan stress test, mencari celah kelemahan, berkontribusi pada proses development atau bahkan menjiplak dan memodifikasinya menjadi proyek baru. Semuanya terbuka dan transparan.

Dengan begini bila ada kelemahan akan segera diketahui dan diperbaiki, sehingga publik bisa mempercayai kualitas dan integritas blockchain tersebut.

Karenanya, semua orang bisa saja membuat blockchain sendiri, baik dengan menulis kode sendiri dari dasar ataupun sekedar menjiplak mentah-mentah kode dari blockchain yang sudah ada.

Namun, yang menentukan blockchain itu berhasil atau tidak adalah jumlah partisipannya. Bila tidak ada miner/penambang yang mau menggunakan komputer-komputernya untuk menjadi bagian dari jaringan blockchain tersebut, maka blockchain tersebut tidak berfungsi alias lumpuh.

Bila tidak ada miner/penambang yang mau menggunakan komputer-komputernya untuk menjadi bagian dari jaringan blockchain tersebut, maka blockchain tersebut tidak berfungsi alias lumpuh.

Sementara proyek Blockchain yang sukses adalah blockchain yang transparan sejak dari development-nya. Open-source, demokratis dan memiliki tim yang mampu menyatukan visi misi para supporter, miner dan user-nya.

Transparansi pada Blockchain sebagai sistem moneter meliputi jumlah suplai maksimum (total supply) dari crypto-asset yang diproduksinya, cost atau biaya transaksi, tim developer yang terlibat, protokol konsensus yang dianut, serta keterangan mengenai genesis block dan teknis penambangannya.

Transparansi semacam ini tidak kita temui pada sistem moneter konvensional pada umumnya. Jangankan mata uang negara-negara lain, pada mata uang paling populer seperti USD yang dikeluarkan oleh Federal Reserve Amerika saja menganut sistem Fiat, di mana sewaktu-waktu Federal Reserve bisa mencetak uang (out of thin air), menetapkan suku bunga dan kebijakan moneter lainnya tanpa kita ketahui sama sekali.

Contoh nyata dari hal ini adalah kemelut krisis ekonomi di Venezuela, di mana negara mencetak uang terlalu banyak (padahal sedang defisit) sehingga rakyatnya tidak lagi mempercayai mata uang negara tersebut, maka terjadilah hyper-inflation.

Blockchain bersifat Decentralized

Seperti yang sudah kita pahami di bagian awal artikel ini, sistem yang terdesentralisasi akan lebih baik dari sistem yang terpusat dalam menghadirkan sebuah ekosistem pencatatan transaksi yang transparan dan terpercaya.

Namun, perlu kalian ketahui, tidak semua sistem akan jadi lebih baik apabila menggunakan konsep decentralized. Terkadang, manajemen terpusat bisa lebih tepat guna apabila diterapkan pada sistem yang membutuhkan otoritas dalam setiap prosesnya.

Sifat terdesentralisasi pada Blockchain merupakan solusi nyata untuk menghadirkan suatu sistem yang jujur, transparan dan demokratis.

Blockchain bersifat Immutable

Immutable artinya ‘tidak bisa berubah’. Sifat Immutable pada blockchain berasal dari pondasi teknisnya, di mana seluruh block data yang sudah lulus protokol konsensus dan dimasukkan ke dalam blockchain adalah final dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.

Artinya, tidak ada satu pihak pun yang bisa menyensor atau menutupi data yang tertera di Blockchain. Sehingga, sekali sebuah data sudah masuk ke Blockchain maka data tersebut tersedia untuk semua orang yang bisa mengakses tanpa perlu khawatir data tersebut akan diblokir atau diubah oleh pihak tertentu, sekalipun pihak yang memiliki otoritas seperti pemerintah.

Coba bandingkan dengan contoh konvensional pada sistem perbankan, tahukah kamu bila pemerintah bisa menyuruh Bank untuk membekukan rekeningmu? Tanpa seizin dan sepengetahuanmu!

Blockchain bersifat Independent dan Personal

Seperti yang kita bahas di awal tadi, Blockchain menghadirkan solusi untuk memungkinkan kita berinteraksi secara langsung dengan aset kita tanpa harus menggunakan pihak ketiga sebagai perantara.

Dalam hal moneter, dengan menggunakan Blockchain kamu tidak memerlukan Bank lagi, karena kamu sendiri yang menjadi bankir untukmu. Kamu bisa melakukan transfer atau menerima kiriman tanpa harus menyerahkan asetmu pada siapapun.

Namun, sifat ini pula yang mengharuskan penggunanya bertanggung jawab penuh untuk menjaga kerahasiaan data personal seperti private keys, passphrase atau akses untuk hardware wallet.

Karena apabila pengguna tersebut lalai dan kehilangan akses (dan celakanya tidak menyimpan back-up), maka tidak ada layanan yang bisa membantu mengembalikannya (seperti saat kamu lupa pin ATM atau lupa password mobile banking).

Blockchain bersifat Efisien.

Efisien adalah kata yang paling dekat untuk menggambarkan kemampuan Blockchain untuk menjalankan sebuah fungsi yang diperlukan penggunanya.

Dibandingkan dengan sistem konvensional, Blockchain sangat cepat dalam memproses sebuah konsensus bahkan untuk jutaan partisipan di berbagai belahan dunia secara serentak.

Blockchain dari generasi setelah Bitcoin mengembangkan kemampuan memproses transaksi dengan sangat cepat, hampir instan, dengan biaya sangat murah bahkan gratis.

Bayangkan, kamu bisa mengirim dana dari Jakarta ke London dalam beberapa detik saja, dengan biaya kurang dari Rp.1000,-. Jangan harap Bank konvensional bisa melakukannya tanpa biaya yang tinggi dan proses yang memakan waktu lama.

Blockchain bersifat Disruptive.

Ini dia istilah yang paling overused dalam beberapa tahun belakangan ini. Disruptive adalah sebuah adjective yang menyatakan sesuatu memiliki sifat yang bisa mengguncang atau merombak tatanan yang sebelumnya.

Dalam beberapa tahun belakangan ini ada banyak perusahaan start-up bermunculan dengan membawa ide-ide yang disruptive dan mengubah cara orang-orang berinteraksi dengan lingkungan, dengan informasi, dengan teknologi, dengan transportasi, akomodasi, komersil dan banyak lagi.

Teknologi Blockchain adalah sebuah teknologi yang disruptive, yang akan mengubah banyak sekali aspek kehidupan umat manusia. Tidak heran bila banyak yang menjuluki Blockchain sebagai Internet 3.0.

Dunia sudah mengalami 2 kali terobosan teknologi informasi, saat pertama kali internet muncul secara umum dan orang mulai ‘berselancar’ di permukaannya, dan saat kemunculan media sosial (user-generated contents) yang menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok manusia.

Kini, Blockchain hadir sebagai terobosan yang menghilangkan perantara dan batasan dalam interaksi manusia dengan ekosistemnya.

Pernah dengar bila pemerintah bisa menyadap saluran komunikasi dan aplikasi messenger-mu? Pernah dengar kalau informasi sensitif di website atau channel YouTube bisa di-takedown oleh otoritas tertentu? Tahu tidak kalau data-data pribadimu di internet sedang dipanen oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Google dan Facebook?

Well, dengan Blockchain, solusi untuk semua itu tinggal selangkah lagi.

Kesimpulan

Fyuuh! Seminggu sudah berlalu sejak aku mulai mengetikkan ‘Apa itu Blockchain?’ sebagai kata-kata pertama untuk artikel ini, hahaha! 😀
Jadi, Blockchain memang rumit untuk dipahami, kalau ada yang bilang Blockchain itu mudah, kamu harus curiga! Jangan-jangan dia mau prospek Dapp ponzi! 😀

Intinya, Blockchain adalah sebuah teknologi disruptive, yang memungkin penggunanya untuk saling berinteraksi, menyimpan dan mengirim data/aset digital/smart-contract secara langsung (tanpa perantara) dengan efisiensi tinggi(waktu dan biaya), serta menjadi sebuah platform yang transparan, immutable dan terdesentralisasi.

Teknologi Blockchain bukan hanya digunakan untuk mata uang digital seperti Bitcoin, tapi jauh lebih luas lagi. Blockchain akan mengubah cara kita mengakses internet, browsing, menikmati hiburan film/musik, mengikuti kursus online, berpartisipasi dalam pemilu, memesan ojek online, menerbitkan karya bahkan membuat dan mengedarkan meme. 😀

Meski hampir seluruh Blockchain sekarang memiliki cryptocurrency, sehingga mengundang banyak spekulator yang sebenarnya tidak begitu memperdulikan visi-misi dari proyek Blockchain tersebut, hanya memikirkan profit dari ‘jualan rumor‘ saja.

Namun, seiring waktu, proyek-proyek Blockchain yang bagus-bagus akan matang dan mulai menarik seluruh orang untuk berlaih padanya. Disruptive sebenarnya nggak beda jauh dengan nikung gebetan teman. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

one × two =