Apa itu Cryptocurrency? (Crypto Basic Series by Evan Stinger)

Apa itu Cryptocurrency? (TL;DR)
Cryptocurrency adalah mata uang digital dengan perpaduan keamanan cryptography dan teknologi blockchain yang decentralized. Cryptocurrency memungkinkan penggunanya untuk mengirim uang digital tanpa memerlukan perantara seperti Bank.

Sejujurnya, lebih mudah untuk menjelaskan konsep Blockchain dari pada cryptocurrency. Meski sebenarnya secara teknis Blockchain lebih ribet dan njlimet, dunia sudah sepakat dengan konsep desentralisasi dari Blockchain. Namun, soal cryptocurrency, orang-orang masih berseteru.

Memahami Apa itu Cryptocurrency:

Secara etimologi, Cryptocurrency adalah perpaduan dari crypto dan currency. Crypto yang dimaksud di sini adalah cryptography, sebuah teknik penyandian (pengkodean) yang memastikan sesuatu menjadi terlindung dan aman dari pihak yang tidak berkepentingan. Sementara currency adalah mata uang, sesuatu yang kita gunakan untuk saling bertukar nilai.

Jadi, Cryptocurrency seharusnya adalah mata uang (digital, tentunya) yang dapat kita gunakan sehari-hari untuk kegiatan finansial seperti membeli/menjual atau membayar sebuah layanan atau mengirimkan nilai uang ke individu lain. Di mana semuanya itu terjadi secara desentralisasi, tidak tergantung pada Bank, tidak dikontrol oleh pemerintah, efisien secara waktu dan biaya.

“Seperti Bitcoin, dong?”

Ya! Bitcoin adalah sebuah fenomena awal yang menandai lahirnya era Cryptocurrency (atau saat ini tepatnya disebut cryptocurrencies, plural).

“Kalau sudah ada Bitcoin sebagai Cryptocurrency, kenapa harus ada cryptocurrency lain?”

Nah, ini dia pertanyaan yang berbahaya dan bisa memicu konflik perdebatan sengit yang tidak akan tuntas tujuh turunan (tanjakan, kelokan, dll.) 🤣

Jadi, untuk bisa memahami apa itu cryptocurrency (secara objektif), kita perlu lebih dahulu memahami alasan dibalik lahirnya cryptocurrency itu sendiri.

Kenapa harus Cryptocurrency?

Announcing the first release of Bitcoin, a new electronic cash
system that uses a peer-to-peer network to prevent double-spending.
It’s completely decentralized with no server or central authority.

Satoshi Nakamoto, saat mengumumkan Bitcoin v0.1 via SourceForge

Kebanyakan orang hanya memperhatikan sisi praktikal tentang Bitcoin, apa fungsinya, bagaimana sifatnya, apa keunggulannya, etc. Namun, orang jarang tergerak untuk memahami alasan kenapa Bitcoin itu harus dibuat oleh Satoshi.

The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks

Pesan yang disematkan Satoshi Nakamoto pada Genesis Block Bitcoin

Sebenarnya, tidak perlu waktu lama bagi siapapun yang ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang ini, kita akan menemukan bahwa Satoshi menunjukkan kekecewaan terhadap sistem finansial yang tersentralisasi. Di mana pemerintah bisa seenaknya mengambil berbagai tindakan perbankan yang terus menggerus nilai uang yang dimiliki oleh masyarakatnya.

Uang seharusnya netral, tidak dikuasai oleh siapapun, tidak dikendalikan oleh pihak manapun kecuali pemiliknya.

Satoshi Nakamoto bukan sekedar menciptakan uang digital atau mata uang virtual. Satu dekade sebelum Bitcoin, sudah banyak maestro komputer, engineer dan saintis yang menciptakan berbagai mata uang digital, tapi semuanya gugur satu persatu. Masalah utamanya saat itu adalah: double spending.

Double Spending Problem

Karena uang digital ini berbentuk ‘data‘, maka aturan distribusinya menentukan sifatnya. Apabila kita menginginkan ‘data’ uang digital ini terdistribusi (tidak tersentralisasi seperti bank), maka apa yang bisa mencegah orang-orang menggunakan ‘data’ uang digital yang sama pada berbagai vendor atau transaksi.

Ini mirip seperti bugs atau celah keamanan yang terkadang terjadi pada berbagai layanan Fintech/Wallet seperti GoPay, OVO, LinkAja, dl., di mana Saldo kita tidak berkurang setelah melakukan transaksi (entah karena kesalahan pada aplikasi atau masalah koneksi jaringan), sehingga kita bisa menggunakan Saldo itu terus bertransaksi sampai akhirnya celah itu ditutup si provider. Padahal, layanan Fintech ini jelas-jelas tersentralisasi, tapi masih bisa kebobolan seperti ini. Bayangkan kalau hal itu terjadi pada sebuah sistem Peer-to-Peer, ya bubar!

OK, tidak perlu panjang lebar lagi soal Bitcoin, karena mungkin kalian sudah lebih dahulu mempelajarinya sebelum sampai ke sini, tapi kalau memang kalian ingin menyegarkan ingatan kalian tentang Bitcoin, silakan mampir ke artikel ini.

Kita akan lanjutkan ke pertanyaan berbahaya tadi:

“Kalau sudah ada Bitcoin, kenapa harus bikin Cryptocurrency lain?”

Dhuarr!!! 🤣

Nggak salah, sih, pertanyaannya… 😅
Tapi, sebaiknya jangan kamu sampaikan ke para Moon bois ya, nanti kamu akan diserang dan dicap Maximalist, padahal kamu aja nggak ngerti apaan itu Maximalist. Hahaha.

Ada banyak pendapat yang sebenarnya cukup berimbang untuk menjawab pertanyaan berbahaya di atas. Di antaranya, aku rasa pendekatan fungsional cukup tepat untuk ini.

apa itu cryptocurrency koin ethereum bitcoin di laptop

Gold Standard

Bitcoin, bukan sekedar cryptocurrency pertama, bukan sekedar pionir yang membuka jalan ke era keemasan cryptocurrency. Bitcoin tidak akan kemana-mana, tidak akan tergantikan meski tak lama kemudian bermunculan banyak sekali cryptocurrencies lain dengan embel-embel: Blocksize lebih besar, kecepatan lebih tinggi, lebih ringan, lebih superior, bahkan makin lama ada embel-embel yang makin absurd: “Lebih sesuai dengan visi Satoshi”. 😂🤣

Oleh karena itu, masyarakat digital dengan yakin telah mengadopsi Bitcoin sebagai Gold Standard. Seluruh cryptocurrencies lain diukur nilainya dengan nilai Bitcoin (BTC). Selayaknya emas, yang sejatinya merupakan tolak ukur cadangan (Reserve) dari kekuatan finansial suatu institusi, Bitcoin juga dipercaya sebagai Store of Value (penyimpan nilai).

Silver Standard dan lahirnya Altcoins

Tak lama berselang setelah Bitcoin semakin dikenal dan harganya terus menanjak, beberapa expert kriptografi lain mulai membangun crytocurrency mereka masing-masing.

Litecoin lahir dari tangan Charlie Lee, pada tahun 2011 saat ia masih bekerja di Google. Litecoin adalah sebuah fork dari Bitcoin yang ditujukan untuk transaksi yang bernilai lebih receh namun lebih rutin untuk mendampingi Bitcoin, seperti perak mendampingi emas dalam memudahkan transaksi.

Source code Litecoin sangat identik dengan Bitcoin, bedanya adalah Litecoin 4 kali lebih cepat, hanya membutuhkan 2,5 menit untuk memproses sebuah ‘block‘, sementara Bitcoin butuh 10 menit, lalu jumlah total supply Litecoin lebih besar, serta algorithma yang berbeda yaitu scrypt (Bitcoin menggunakan SHA-256).

Fork adalah istilah teknis dalam dunia developer komputer dan software, di mana seorang developer menyalin source code dari sebuah project (open source) lalu kemudian memodifikasinya dan meluncurkannya sebagai project yang berbeda. Sederhananya, fork adalah sebuah percabangan, di mana awalnya teknologi/software itu sebuah project yang sama, lalu sebagian pengembangnya berpisah di percabangan dan mengembangkannya menjadi sebuah project yang berbeda.

Bitcoin adalah sebuah project yang bersifat Open Source, artinya source code nya tersedia secara publik, bisa diperiksa oleh siapa saja, bisa disalin dan dikembangkan menjadi project berbeda oleh siapa saja. Sehingga, untuk para pegiat komputer, membuat ‘bitcoin baru’ itu bukan hal yang sulit, semudah copy-paste lalu modifikasi sedikit, dan sebuah Altcoin telah terbit.

Karena itu pernah ada masa di mana setiap hari ada ‘announcement’ tentang sebuah Altcoin, dan temanya semakin bermacam-macam. Mulai dari copy-paste Bitcoin dengan rumusan nama “Bitcoin + logam mulia/apapun yang terdengar keren” sampai ke Altcoin yang dimaksudkan sebagai lelucon atau meme, semua mulai bertebaran di mana-mana. Tidak heran, pada situasi seperti ini para oknum penipu (scam artists) pun tumbuh subur.

Smart Contract and Tokenisation

Pada pertengahan 2015, sebuah blockchain baru bernama Ethereum diluncurkan setelah berhasil menggalang pendanaan setahun sebelumnya. Blockchain ini memiliki cryptocurrency-nya sendiri yang bernama ‘Ether‘. Ethereum menghadirkan kompetisi positif dalam pengembangan ekosistem Blockchain dan Cryptocurrency dengan membawa teknologi Smart Contract dan sistem Tokenisasi.

Teknologi Smart Contract merupakan terobosan luar biasa dalam ekosistem desentralisasi. Smart Contract memungkinkan berdirinya sebuah kumpulan aturan dan sistem tanpa campur tangan manusia atau pihak ketiga. Menghubungkan antar pengguna dalam sebuah kontrak yang transparan dan aman, seperti memiliki sebuah notaris online.

Sementara Tokenisasi menjadi begitu populer di kalangan start-up company untuk menggalang dana dengan crowdfunding berbasis token. Saat itu, begitu banyak orang seperti berlomba-lomba untuk mendanai project yang ingin melampaui ‘Bitcoin’ (ya, narasinya masih belum berubah 🤣), begitu banyak harapan-harapan yang dijual menggunakan platform tokenisasi ini.

Sayangnya, seiring dengan hadirnya teknologi ini, bad actors juga semakin tumbuh subur memanfaatkan platform Ethereum. Semakin banyak project boneka yang bermunculan dengan memanfaatkan Tokenisasi di platform Ethereum. Mulai dari exit scams hingga pump and dump, semuanya menambah daftar hitam dunia cryptocurrency.

Institusi Finansial dan Bank

Ironis memang, tapi ini bukan hal baru di dunia ini. Para pendiri komunitas blockchain dan cryptocurrency berjuang membangun sebuah ekosistem finansial yang merdeka, terdesentralisasi, bebas dari genggaman pemerintah, institusi finansial dan pastinya: Bank.

Be your own bank.

Slogan ini menjadi favorit para pecinta cryptocurrency, terutama Bitcoin. Sticker-sticker nya banyak ditemukan di toko/vendor yang mendukung pembayaran menggunakan BTC.

Namun, ketika harga Bitcoin terus meroket hingga puluhan ribu USD, maka transaction fee pun menjadi semakin tinggi, dan konyol.

Ripple (XRP) dan Theter (USDT) menduduki posisi ketiga dan keempat dari kapitulasi market cryptocurrency. Ripple adalah cryptocurrency yang seluruh koinnya sudah ditambang (premined), ditujukan untuk menjembatani pembayaran/kliring perbankan antar negara, sungguh jauh dari sifat desentralisasi yang diharapkan pada sebuah cryptocurrency.

Para maximalists dan fanatik cryptocurrency sangat membenci crypto ‘siluman’ ini, padahal dari segi fungsi XRP dan USDT sudah membuktikan kapasitasnya.

Please, don’t hate me because of this 😂

Jadi, cryptocurrency adalah…

Meski telah membaca ocehan panjang lebar dariku, aku harap kalian bisa menilai dengan objektif. Pada dasarnya, bila yang kalian cari adalah currency (mata uang), maka fokuslah pada fungsinya: Untuk apa kalian akan menggunakan mata uang itu?

Aku akan permudah dengan contoh ini: Next week, Aku berencana untuk melakukan business trip ke Singapore. Aku akan di sana selama tiga hari. Aku akan membutuhkan kurang lebih 500SGD (Singapore Dollar), maka aku pergi ke money changer dan menukarkan Rupiahku dengan SGD sebanyak yang kubutuhkan tadi.

Aku hanya membeli sebuah mata uang, sebanyak yang kugunakan saja. Aku tidak memerlukan SGD di Indonesia, dan aku tidak seiseng itu untuk berspekulasi dengan harga SGD-IDR.

Jadi, pakailah cryptocurrency sesuai fungsi yang kamu inginkan. Aku tidak menyarankan kalian menyimpan sembarang cryptocurrency dalam jangka panjang (sebagai investment atau lebih buruk lagi, store of value) hanya karena kalian terbawa hype di grup Telegram project tersebut atau terlanjur beli karena tergoda suara-suara sumbang di jagad Crypto Twitter. Sudahlah, cut loss saja! 🤣

Mari, budayakan banyak membaca, banyak riset. Jangan mudah tergoda dengan tawaran yang too good to be true, jangan membuat keputusan saat kamu sedang senang atau sedang menikmati bir dingin. Jangan jadi domba dan membuat keputusan dengan ikut-ikutan tren. Dunia crypto itu keras dan tak kenal ampun, maka jadilah Serigala! 🐺

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

18 − seventeen =