“Ngapain bikin Website sendiri, kan udah ada Marketplace dan Media Sosial?”

Kapan terakhir kali kamu mencari dan membuka website dari sebuah produk atau sesuatu (atau apapun itu) yang tiba-tiba ingin kamu ketahui?

Nggak usah dipikirin, mungkin memang udah nggak pernah lagi.

Jaman sekarang, semua orang selalu bergantung pada smartphone-nya–hampir setiap saat. Mau ngobrol, mau flirting, mau panjat sosial, mau bahas kerjaan/bisnis, mau jualan, mau beli paket data internet, mau apapun itu, yang digunakan adalah aplikasi media sosial dan marketplace.

Apa kabar dengan kamu yang berencana membuka petualangan terbarumu? Masih perlukah untuk membuat website untuk itu? Mulai dari menentukan nama domain yang catchy, pilih hosting atau VPS, riset keywords untuk SEO, desain UI/UX, promosi kesana kemari?

Atau… tinggal buka akun saja di marketplace Unicorn yang udah punya jutaan pengguna, bejibun pilihan pembayaran, terintegrasi kurir antar/jemput, sambil tebar jaring di paid post MedSos?

Website vs. Marketplace: Pilihan atau Sinergi?

Ini polemik yang sering terjadi setiap kali perkembangan teknologi menggeser dan mengubah pola hidup kita sebagai manusia. Entah kamu perhatikan atau tidak, teknologi cenderung membuat manusia semakin malas dan manja.

girl boring with phone
“Nggak menarik, cancel!”

Kita menjadi mudah bosan, short attention span, dan berorientasi swipe left or right? Karena kita senantiasa menatap layar yang menyuguhkan lautan informasi, semuanya berebut tempat untuk menarik perhatian kita, mengharapkan click dari jari-jari yang penasaran.

Apapun yang kita inginkan, makanan, minuman, hiburan, bepergian dan belanja, semuanya hanya sejauh click, click dan click saja. Bahkan seringkali lebih singkat dari itu.

Perilaku konsumen yang serba instant ini membuat siapapun yang hendak membangun funnel baru untuk usahanya perlu menimbang masak-masak strategi pemasarannya.

Mengikuti evolusi manusia dan teknologi dengan mengedepankan Marketplace yang sudah menjadi view and click magnet bagi seluruh jagat online? Atau melestarikan budaya brick and mortar versi digital?

Karena polemik ini sebenarnya sudah pernah muncul di era ’80an (’90an di Indonesia), saat mal-mal mulai berkembang subur dan gerai-gerai mulai berpindah menjadi etalase susun di gedung-gedung mal yang menjadi pusat kegiatan para hipster dan compulsive buyers. Saat itu, banyak brand-brand terkenal yang memiliki toko ala brick and mortar mengalami penurunan omset drastis karena para pembeli lebih senang pergi ke mal.

Beberapa brand kecil tumbang, beberapa yang lain bertahan dengan berkompromi menjejakkan sebelah kaki di mal dan sebelah lagi bertahan di tokonya. Namun, tidak sedikit yang tetap idealis karena berhasil mempertahankan konsumer fanatik, bahkan brand-nya sudah seperti sebuah kultus atau sekte tersendiri.

Haruskah kita memilih?

Beberapa orang merasa tindakan mengikuti arus marketplace adalah sebuah kekalahan, dan budaya marketplace adalah sebuah penjajahan. Karena membangun usaha di sana mirip membangun rumah di tanah orang lain. Apakah benar demikian?

Lantas beberapa orang juga berpendapat bahwa saat ini orang-orang tidak lagi begitu fanatik akan merk/brand, ketika orang-orang butuh barang/jasa, mereka akan menggunakan Search Bar, entah di aplikasi marketplace langganan atau langsung di browser mereka. Ini artinya, tidak peduli seberapa besar pun usahamu membangun website sendiri, peluangmu sangat kecil untuk bisa menyaingi tim SEO sebuah marketplace Unicorn.

Jadi, apakah kita harus menentukan sikap?

Aku rasa tidak, kawan!

Sudah saatnya melepaskan kacamata monokrom itu. Tidak semua hal di dunia ini harus kita ukur dengan konsep biner.

Bila kita ingin berniaga, maka tujuan kita cuma satu: barang/jasa kita ditemukan oleh orang yang membutuhkannya.

Titik.

Semua cara dan jalan yang memudahkan barang/jasa kita untuk ditemukan oleh calon konsumen adalah daftar tugas utama yang perlu kita kerjakan bila kita ingin usaha kita maju.

Ini bukan pilihan, bila ada banyak cara untuk menguntungkan, kenapa tidak kita lakukan semuanya?

Mulai dari mana?

Pahami semua plus-minus dari dua sisi ini. Marketplace memberikan kemudahan seperti seorang saudara yang mengajakmu menumpang berjualan di tokonya. Ingat, tokonya.

Beberapa waktu berlalu, dengan upayamu merayu orang-orang yang datang ke toko itu, kamu pun mulai membangun basis konsumen. Bahkan bukan tidak mungkin, bila kemudian toko itu menjadi semakin ramai, sebenarnya kamulah yang membawa konsumen berdatangan ke sana.

Sekarang, sebelum senyummu semakin lebar, ingatkah kamu toko siapa itu?

Ya, itu bukan tokomu!

Artinya, hal yang paling vital seperti kapan buka/tutupnya toko itu pun bukan kamu yang menentukan. Apabila tiba-tiba toko itu memutuskan untuk tidak buka lagi, maka kamu akan kelabakan. Konsumen yang sudah kamu pupuk selama ini bisa lenyap begitu saja.

Pada marketplace, perubahan 1 karakter saja pada URL bisa membuat penjualan yang tadinya 100 unit per hari menjadi 0 sama sekali. Ingat, kamu tidak punya kendali pada hal itu, karena kamu hanya menumpang di sana.

Bagaimana dengan membuka website sendiri? Kurang lebih mirip dengan membuka toko sendiri, yang artinya: butuh modal untuk tempat, biaya untuk dekorasi toko, biaya untuk manajemen, biaya untuk promosi agar tokomu dikenal orang. Mungkin perutmu langsung tegang membaca kata biaya, biaya dan biaya di atas, tapi dalam pembuatan website tentunya tidak sebesar biaya membuat toko fisik.

Terlepas dari masalah biaya, traffic adalah masalah yang lebih serius. Traffic di sini berarti berapa banyak orang berkunjung ke tokomu, dan pertanyaannya adalah bagaimana cara membuat (banyak) orang berkunjung ke tokomu?

Bila toko fisik, dulu sering menggunakan iklan di berbagai media cetak, radio, bahkan televisi. Di era smartphone, perhatian (attention) orang-orang lebih mudah diraih dari media sosial dan platform dengan native ads. Hal yang sama juga berlaku untuk toko digital/website. Jadi kita akan bersaing dengan toko-toko yang sudah established lebih dahulu, sudah punya nama besar dan modal besar untuk ngiklan setiap hari.

Artikel macam apa ini? Kok malah membuat ciut nyali orang yang mau berusaha? 😂

Hahaha.

Sinergi

Seperti formula untuk setiap cerita atau film yang baik, kita bisa membaginya dalam 3 babak. Babak I: perkenalan karakter dan masalah, babak II: masalah semakin memuncak dan klimaks, babak III: penyelesaian dan konklusi. Artikel ini baru saja mencapai klimaks. 🤣

Berapa roda sepeda ini?

Dari semua masalah dan masalah yang sudah kita jabarkan di dua babak di atas, kita bisa menarik benang merah berikut:

  1. Marketplace memberi kemudahan untuk kita memulai dengan mudah, ibaratnya seperti sepeda roda tiga (bukannya 4 ya? 🤔). Kita tidak benar-benar menaiki sepeda, tapi masih dibantu oleh roda tambahannya. Poin pentingnya adalah, kita bisa maju dan mencoba tanggapan pasar (istilahnya cek ombak) terhadap produk kita tanpa harus keluar banyak biaya terlebih dulu.
  2. Website sendiri memberikan kita sebuah identitas, sebuah jati diri yang akan menjadi pondasi bagi seluruh usaha yang sudah kita lakukan untuk membawa produk kita dikenal orang. Seluruh jerih payah membangun basis konsumen akan 100% menjadi milik kita.

Tidak perlu memilih mana yang lebih baik, kita bisa mengambil yang terbaik dari keduanya dan menggunakannya untuk membantu memajukan usaha kita dari setiap bidang dan peluang.

Sinergi.

Pakailah marketplace di awal untuk menguji produkmu (cek ombak), gunakan platform yang sudah memiliki jutaan pengguna itu untuk menghasilkan data yang akan kita pakai di kemudian hari. Di fase ini, kamu tidak akan keluar banyak modal selain produkmu, jadi jangan ragu untuk mencoba-coba berbagai nama atau strategi branding sampai kamu menemukan yang klop.

Setelah beberapa waktu, hasil petualanganmu di marketplace harus bisa menghasilkan data seperti:

  • Barang mana saja yang lebih diminati (Quality vs Price)
  • Demografi pembeli mayoritas (gender, domisili dan rentang usia)
  • Perilaku pembeli produk (beli berapa banyak, repeat order, review)
  • Margin keuntungan vs mangement/processing cost.

Berbekal data ini, kamu sudah mulai bisa menentukan nama toko/brand yang bisa kamu pakai dalam kurun waktu lama. Kamu juga bisa lihat-lihat bakal calon domain yang ingin kamu beli (pertimbangkan domain baru seperti .shop atau .store).

Formulasikan produkmu dengan sasaran pembelimu, lebih baik menjual lebih sedikit produk yang dibutuhkan oleh mayoritas pembelimu dari pada memiliki banyak inventori yang jarang laku (Prinsip Pareto 80:20).

Pastikan desain website-mu menarik dan intuitif, jangan terlalu dekoratif nanti calon konsumen jadi tidak fokus. Jaga flow tetap simple, web harus responsive (bahkan mobile first) karena hampir semua pengguna internet saat ini menggunakan smartphone.

Gunakan landing page membawa konsumen melihat produk yang relevan, membandingkan (opsional), checkout dengan mudah, pilihan pembayaran yang nyaman, ?????, profit.

Selanjutnya mulai melakukan promosi di marketplace tempatmu memulai tadi, arahkan konsumen untuk datang ke website-mu. Jangan pelit memberikan promo lebih menarik yang hanya ada di website-mu. Pastikan branding-mu di marketplace sama dengan di website-mu, lalukan optimasi SEO dengan keywords-mu, sehingga orang-orang mudah menemukannya di Search Engine juga. Ingat, konsumen itu malas.

Kamu bisa menduplikasikan strategi ini ke berbagai marketplace lain, tujuannya adalah menarik pengunjung marketplace itu untuk melihat produkmu, melihat nama/branding-mu, lalu bawa mereka ke website-mu. Mereka akan jadi milikmu selamanya.

Branding yang kuat akan memudahkanmu untuk ekspansi ke Native Ads (tayang di berbagai kanal produk Google dan aplikasi yang relevan), atau memulai campaign di media sosial.

Sampai di sini aku rasa kalian sudah bisa melanjutkan perjalanan kalian untuk terbang semakin tinggi.

Jadi, stop berpikir dikotomis. Bila kita bisa menyatukan berbagai cara untuk mencapai tujuan kita, kenapa tidak?

Karena profit itu agnostik dan tidak memihak, bersinergilah dengan setiap kemungkinan yang bisa mempertemukan produk kita dengan orang-orang yang membutuhkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

9 − 8 =